Türkiye membidik peningkatan kerja sama industri pertahanan dengan Indonesia, Qatar, dan Pakistan dari sekadar skema pembelian senjata menjadi proyek produksi bersama serta pengembangan teknologi militer.
Kepala Badan Industri Pertahanan Türkiye (SSB), Haluk Gorgun, menyatakan bahwa Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) Badr yang ditandatangani keempat negara di Doha, Qatar, menjadi landasan strategis untuk menyatukan kemampuan industri militer masing-masing negara.
"Kami percaya Nota Kesepahaman Badr akan membantu menerjemahkan kemampuan saling melengkapi dari Qatar, Pakistan, Indonesia, dan Türkiye menjadi proyek-proyek konkret," ujar Gorgun dalam pernyataan resminya.
Kesepakatan ini bertujuan untuk mendukung proyek produksi militer bersama serta memperkuat kerja sama di bidang pelatihan teknis, penelitian, dan pengembangan (R&D). Menurut Gorgun, Türkiye tidak lagi berfokus pada model penjualan produk siap pakai (off-the-shelf procurement), melainkan berkomitmen melakukan alih pengetahuan teknis, kemampuan rekayasa, dan pengalaman industri.
"Pendekatan kami dalam industri pertahanan adalah memproduksi bersama, mengembangkannya bersama, dan tumbuh lebih kuat bersama," tegasnya.
Langkah ini sejalan dengan upaya Indonesia untuk memperkuat kedaulatan industri pertahanan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan penuh pada alutsista impor dari negara-negara Barat. Melalui skema ini, Indonesia berpeluang meningkatkan kapasitas manufaktur lokal serta sumber daya manusia di bidang teknologi militer.
Gorgun menambahkan bahwa diplomasi industri pertahanan Türkiye mencatatkan lonjakan signifikan. Sektor pertahanan Türkiye berhasil membukukan nilai ekspor lebih dari 30 miliar dolar AS sepanjang periode 2023 hingga 2026. Angka tersebut menyumbang lebih dari 55 persen dari total ekspor pertahanan negara tersebut selama 14 tahun terakhir. Bahkan dalam 12 bulan terakhir, nilai ekspor pertahanan Türkiye menembus rekor baru dengan melampaui angka 11 miliar dolar AS.



















