Pasar saham Indonesia mencatatkan kinerja terbaik di kawasan Asia Tenggara pada perdagangan Selasa (4/8). Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ini terjadi di tengah langkah Bank Indonesia mendorong penyaluran kredit perbankan, meski pergerakan nilai tukar rupiah masih membentang tekanan akibat pemulihan indeks dolar AS.
IHSG menguat 0,5 persen dan menyentuh level tertinggi dalam dua pekan terakhir. Kenaikan indeks saham domestik ini salah satunya ditopang oleh lonjakan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang naik hingga 1,2 persen.
Pergerakan positif bursa saham terjadi usai Bank Indonesia menguraikan fokus kebijakannya untuk mendorong penyaluran kredit oleh perbankan nasional. BI sebelumnya memangkas Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 200 basis poin bagi bank-bank tertentu yang mulai berlaku 1 September mendatang. Kebijakan ini dirancang agar bank tidak menempatkan dana likuiditas berlebih di surat berharga BI, melainkan mengalirkannya ke sektor riil.
Berbanding terbalik dengan pasar saham, nilai tukar rupiah justru mengalami penekanan. Pergerakan rupiah merosot hingga melewati level psikologis Rp18.000 per dolar AS, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terlemah di Asia.
Analisis mata uang dari OCBC, Christopher Wong, menilai bahwa kondisi eksternal masih menjadi tantangan berat bagi pergerakan rupiah.
"Kondisi eksternal tetap menantang akibat tingginya harga minyak dunia, suku bunga AS yang bertahan di level tinggi, serta sensitivitas rupiah terhadap aliran modal portofolio," ujar Wong.
Selain sentimen domestik, dinamika pasar finansial Asia juga dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta fluktuasi harga energi global yang memicu kehati-hatian investor.
Di kawasan regional, bursa saham Malaysia (KLSE) mencatatkan kenaikan 0,3 persen, sementara bursa Filipina (PSI) dan Taiwan (TWII) masing-masing melemah 0,4 persen dan 0,5 persen.




















