Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia terus meluas ke sejumlah negara Asia Tenggara, mendorong pemerintah memperkuat koordinasi dengan negara-negara tetangga melalui mekanisme ASEAN.
Dampak asap dilaporkan mencapai Sabah dan Sarawak di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Filipina, termasuk Manila. Di dalam negeri, kebakaran telah memengaruhi ratusan ribu hektare lahan dan menyebabkan kualitas udara berada pada tingkat tidak sehat.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Vahd Nabyl A. Mulachela mengatakan pemerintah tetap mengedepankan kerja sama regional untuk menangani persoalan yang berdampak lintas negara.
“Indonesia secara konsisten mengutamakan kerja sama dengan negara-negara tetangga dan menjaga hubungan bilateral yang baik, terutama dalam menangani persoalan lingkungan yang berdampak lintas batas seperti kabut asap,” ujar Mulachela dalam pernyataan pada Sabtu (5/8).
Indonesia juga menjalankan langkah penanganan berdasarkan ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (AATHP). Mekanisme ini digunakan negara-negara ASEAN untuk memperkuat koordinasi dalam menghadapi pencemaran udara akibat kebakaran hutan dan lahan.
Sekretariat ASEAN (ASEC), yang saat ini menjalankan fungsi sementara sebagai kantor ASEAN Coordinating Centre for Transboundary Haze Pollution Control (ACC THPC), menetapkan Regional Alert Level 3 pada 26 Agustus 2026.
Titik panas meningkat
Setelah status tersebut diberlakukan, negara-negara anggota ASEAN diwajibkan menyampaikan laporan kondisi setiap hari. Laporan itu mencakup perkembangan situasi serta peta arah pergerakan kabut asap yang kemudian dibagikan kepada negara-negara anggota ASEAN.
Informasi yang disampaikan Indonesia antara lain mencakup data titik panas, kondisi lingkungan, arah pergerakan asap, serta perkembangan operasi pemadaman. Pertemuan rutin antarnegara juga tetap dilakukan untuk mengevaluasi situasi dan membahas langkah selanjutnya.
Di tengah koordinasi regional tersebut, jumlah titik panas di sejumlah wilayah Indonesia mengalami peningkatan. Berdasarkan sistem pemantauan Sipongi Kementerian Kehutanan, Kalimantan Barat mencatat kenaikan hotspot dari 273 menjadi 859 hingga 1 September 2026. Kalimantan Tengah juga meningkat dari 253 menjadi 623 titik.
Sumatera Selatan mencatat kenaikan dari 20 menjadi 89 titik panas, dan Kalimantan Selatan naik dari 22 menjadi 73 titik. Jambi yang sebelumnya tidak mencatat titik panas kini memiliki empat hotspot. Sementara itu, Riau tetap mencatat nol titik panas.
Upaya pemadaman masih berlangsung di sejumlah wilayah. Pada 5 September, petugas Badan Penanggulangan Bencana Indonesia bersama brigade Manggala Agni melakukan operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Ogan Ilir, Sumatera Selatan.
Pemerintah Indonesia mengatakan strategi pemadaman dan langkah untuk mengurangi dampak kebakaran akan terus diperkuat, baik untuk mengatasi kondisi di dalam negeri maupun mencegah dampak asap semakin meluas ke wilayah negara lain.



















