Inflasi konsumen di Amerika Serikat mencapai level tertinggi dalam tiga tahun pada April, seiring dampak ekonomi dari perang AS-Israel terhadap Iran dan aksi balasan Teheran mulai mengguncang ekonomi terbesar dunia tersebut.
Indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) naik 3,8 persen secara tahunan, meningkat dari 3,3 persen pada Maret, menurut data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) yang dirilis Selasa.
Keterjangkauan harga menjadi salah satu isu politik utama bagi Presiden AS Donald Trump. Tingginya harga yang dipicu lonjakan biaya energi, gangguan rantai pasok akibat perang, serta tarif baru AS diperkirakan akan menambah tekanan terhadap Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu November mendatang.
Perang AS-Israel melawan Iran telah memicu eskalasi kekerasan di Timur Tengah sejak akhir Februari, dengan aksi balasan Iran yang menargetkan sekutu Washington di kawasan serta menyebabkan Selat Hormuz nyaris lumpuh.
Teheran juga meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah negara Teluk sekutu AS, mengguncang reputasi negara-negara kaya minyak tersebut yang selama ini dikenal stabil.
Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia biasanya melewati Selat Hormuz. Namun, blokade di jalur strategis itu kini mendorong harga energi global melonjak tajam.
Pada April, indeks harga energi di AS tercatat naik 17,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut data BLS. Angka itu menjadi kenaikan tertinggi di antara seluruh kategori pengeluaran.
Harga pangan juga naik 3,2 persen secara tahunan pada April, sementara harga bahan makanan mencatat kenaikan tercepat sejak 2023.
Inflasi inti atau core CPI, yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi yang fluktuatif, tercatat sebesar 2,8 persen secara tahunan pada April, naik dari 2,6 persen pada bulan sebelumnya.
Konsumen terpukul kenaikan harga BBM
Konsumen AS telah menghadapi inflasi tinggi selama beberapa tahun terakhir, sementara para pembuat kebijakan masih kesulitan menstabilkan harga lebih dari lima tahun setelah pandemi dimulai.
Kenaikan harga bahan bakar diperkirakan menjadi perhatian utama pemilih. Menurut klub otomotif AAA, harga rata-rata bensin reguler telah melonjak 51 persen sejak perang dimulai.
Ekonom utama AS di Oxford Economics, Bernard Yaros, memperingatkan bahwa tingginya harga grosir bensin menunjukkan harga di SPBU kemungkinan kembali mendorong inflasi utama bulan depan.
“Para konsumen tidak hanya mengalami kejutan harga di pom bensin, tetapi juga pada tagihan listrik mereka karena tarif listrik melonjak tajam bulan lalu,” ujarnya.
Senator Partai Demokrat Elizabeth Warren pada Selasa mengkritik Presiden Trump terkait data inflasi terbaru tersebut.
“Donald Trump berjanji menurunkan biaya hidup sejak hari pertama. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Tarif impor yang kacau membuat harga naik, dan sekarang perang dengan Iran semakin memperburuk keadaan,” kata Warren dalam pernyataannya.

Risiko memburuk sebelum membaik
Bank Sentral AS atau Federal Reserve memiliki target inflasi jangka panjang sebesar dua persen. Sejumlah pejabat The Fed juga mulai memberi sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga untuk menekan laju harga.
“Karena inflasi bergerak ke arah yang salah sementara pasar tenaga kerja masih cukup kuat, sangat kecil kemungkinan The Fed dapat menurunkan suku bunga dalam waktu dekat,” kata Chris Zaccarelli dari Northlight Asset Management.
Ia menambahkan, investor bahkan mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga tahun depan.
Kepala ekonom Nationwide, Kathy Bostjancic, mengatakan data inflasi April masih sesuai perkiraan, namun kemungkinan akan mendorong lebih banyak pejabat Federal Open Market Committee (FOMC) mendukung kenaikan suku bunga.
“Hal itu akan membuat The Fed semakin sulit memangkas suku bunga tahun ini, meskipun Kevin Warsh yang cenderung mendukung pemotongan suku bunga akan memimpin FOMC,” ujarnya.
Kevin Warsh, kandidat pilihan Trump, dijadwalkan dikukuhkan sebagai anggota dewan Federal Reserve oleh Senat AS pada Selasa, sementara pengesahannya sebagai ketua diperkirakan berlangsung akhir pekan ini.
Kepala ekonom KPMG Economics, Diane Swonk, memperingatkan dampak perang Iran terhadap ekonomi AS kemungkinan akan “memburuk sebelum membaik.”
“Penutupan Selat Hormuz bukan sekadar guncangan energi. Situasi ini mengacaukan rantai pasok global dengan pola yang mengingatkan pada gangguan saat pandemi,” katanya.
“Artinya, dampaknya bisa terus terasa hingga 2027, bahkan jika selat itu kembali dibuka besok.”










