Tren alih fungsi lahan perkebunan meluas di berbagai wilayah penghasil karet di Indonesia. Banyak petani lokal memilih menebang pohon karet mereka dan menggantinya dengan kelapa sawit demi menekan biaya operasional dan mengejar kepastian pendapatan.
Sumaryono (45), seorang petani swadaya asal Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, menjadi salah satu yang mengambil keputusan drastis tersebut. Tiga tahun lalu, ia menginvestasikan seluruh tabungannya sebesar Rp35 juta (sekitar US$2.200) untuk mengonversi 10 hektar kebun karetnya menjadi perkebunan kelapa sawit.
"Panen dilakukan dua kali sebulan. Kami langsung menjual tandan buah segar dan mendapatkan uang tunai. Perawatannya tidak butuh pengawasan ketat setiap hari seperti karet," ujar Sumaryono saat dihubungi dari perkebunannya di Banyuasin.
Sumatera Selatan selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung karet terbesar di Tanah Air. Namun, keunggulan tersebut perlahan terkikis. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, luas lahan perkebunan karet di Indonesia menyusut hingga 17 persen dalam lima tahun terakhir—dari 3,78 juta hektar pada 2021 menjadi sekitar 3,13 juta hektar pada 2026.
Dampaknya terasa langsung pada volume produksi nasional yang anjlok dari kisaran 3 juta ton metrik pada 2021 menjadi hanya sekitar 2 juta ton tahun ini.
Ketiga faktor utama yang mendorong eksodus petani ini adalah disparitas harga, kelangkaan tenaga penyadap, serta skema tata kelola kelapa sawit yang dianggap lebih memberikan jaminan ekonomi harian.
Ketua Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo), Arif Susanto, memperkirakan sekitar 500.000 hektar lahan karet di Sumatera Selatan saja telah berganti rupa menjadi kebun sawit. Menurutnya, pemicu utamanya sangat sederhana, yaitu faktor harga. Meskipun harga karet sempat membaik dalam dua tahun terakhir, komoditas ini mengalami stagnasi panjang sejak rekor tertinggi pada 2011. Sebaliknya, harga sawit terus terdorong naik seiring tingginya permintaan untuk program mandatori biodisel domestik.
Pergeseran ini berdampak signifikan pada industri manufaktur global, terutama produsen ban yang menyerap sekitar 50% karet alam Indonesia. Sebagai produsen karet alam terbesar kedua di dunia setelah Thailand—dengan kontribusi mencapai 14% dari pasokan global—penurunan produksi Indonesia mulai memaksa pabrikan multinasional memindahkan fokus pengadaan (sourcing) mereka ke wilayah lain seperti Afrika Barat, khususnya Pantai Gading.
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian menyatakan terus berupaya meningkatkan daya saing sektor karet nasional, sembari mengimbau para petani untuk tetap mempertimbangkan dampak ekonomi jangka panjang serta keberlanjutan lingkungan sebelum melakukan konversi lahan.

















