BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Indonesia catat defisit perdagangan pertama dalam 6 tahun, impor melonjak tajam
Ekspor pada Mei turun 5,73 persen secara tahunan menjadi $23,2 miliar, didorong penurunan pengiriman komoditas, termasuk produk tambang yang merosot 7 persen.
Indonesia catat defisit perdagangan pertama dalam 6 tahun, impor melonjak tajam
FOTO ARSIP: Terminal kontainer di pelabuhan Tanjung Priok, Juni 2026. (Reuters)

Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan sebesar $1,61 miliar pada Mei, mengakhiri tren surplus yang berlangsung sejak 2020. Data resmi yang dirilis Rabu menunjukkan penurunan ekspor yang tak terduga, sementara impor melonjak tajam.

Selama bertahun-tahun, Indonesia menikmati surplus perdagangan bulanan. Namun dalam beberapa bulan terakhir, tekanan mulai terlihat akibat meningkatnya impor bahan bakar, pelemahan rupiah, dan ekspor yang melambat. Defisit Mei menjadi yang terbesar sejak April 2019, sekaligus berbalik dari surplus tipis $90 juta pada April.

Ekspor pada Mei turun 5,73 persen secara tahunan menjadi $23,2 miliar, didorong penurunan pengiriman komoditas, termasuk produk tambang yang merosot 7 persen.

Sebaliknya, impor naik 22,16 persen menjadi $24,81 miliar, jauh di atas ekspektasi, dipicu lonjakan hampir dua kali lipat pembelian minyak olahan serta peningkatan impor bahan baku seperti plastik, bahan bakar mineral, dan baja.

TerkaitTRT Indonesia - Impor Indonesia melonjak 22,16 persen pada Mei 2026

Ekonom DBS Radhika Rao menilai tekanan eksternal berpotensi mereda dalam waktu dekat. 

“Penurunan tensi geopolitik global mendorong koreksi tajam harga minyak, yang dapat memperbaiki terms of trade dan mengurangi tekanan sektor eksternal mulai kuartal ketiga,” ujarnya.

Di sisi lain, inflasi Indonesia menunjukkan percepatan. Laju tahunan pada Juni naik ke 3,34 persen, tertinggi dalam tiga bulan dan mendekati batas atas target Bank Indonesia (BI) sebesar 1,5 persen–3,5 persen. Kenaikan ini dipengaruhi oleh mahalnya bahan bakar non-subsidi, biaya logistik, serta pelemahan rupiah.

Inflasi inti juga meningkat menjadi 2,76 persen, mencerminkan tekanan harga yang lebih luas. Bank Indonesia sendiri telah menaikkan suku bunga acuan dua kali pada Juni, termasuk langkah tak terduga di luar jadwal, untuk menahan depresiasi rupiah dan mengendalikan inflasi. Sejak pertengahan Mei, total kenaikan suku bunga mencapai 100 basis poin.

Ekonom Bank Permata Faisal Rachman menyebut ruang kenaikan suku bunga lanjutan masih terbuka. “Kami tidak menutup kemungkinan kenaikan suku bunga BI pada 2026 jika kondisi memburuk,” katanya. 

Meski demikian, ia memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga di level 5,75 persen dalam skenario dasar.

Ke depan, risiko inflasi juga dipengaruhi potensi gangguan produksi pangan akibat fenomena El Nino. Namun otoritas moneter tetap optimistis inflasi akan berada dalam kisaran target.

TerkaitTRT Indonesia - Rupiah dibuka melemah ke Rp17.944 per dolar AS pada Rabu pagi
SUMBER:Reuters