BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
China mulai diversifikasi investasi nikel di luar Indonesia di tengah tekanan kebijakan
Perusahaan nikel China mulai melirik ekspansi ke Afrika dan Pasifik di tengah meningkatnya ketidakpastian kebijakan di Indonesia yang sebelumnya menjadi pusat utama produksi global.
China mulai diversifikasi investasi nikel di luar Indonesia di tengah tekanan kebijakan
Tambang bijih nikel mentah di Vale di Sorowako, provinsi Sulawesi Selatan. /Reuters

Sejumlah perusahaan China yang berperan besar dalam menjadikan Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia mulai melirik ekspansi ke luar negeri. Langkah ini muncul seiring meningkatnya ketidakpastian kebijakan di dalam negeri yang dinilai dapat memengaruhi model investasi yang selama ini mendorong dominasi Indonesia dalam rantai pasok global.

Mengutip laporan Reuters pada Jumat pagi (5/6), Grup Tsingshan dilaporkan tengah mempertimbangkan proyek industri bernilai miliaran dolar di Madagaskar, sementara Lygend Resources menjajaki peluang di Tanzania serta membuka kembali proyek Koniambo di Kaledonia Baru. 

Ekspansi ini berpotensi menjadi investasi nikel pertama kedua perusahaan di luar Indonesia.

Sejak larangan ekspor bijih nikel diberlakukan pada 2020, perusahaan-perusahaan China berkontribusi besar dalam pembangunan smelter dan kawasan industri di Indonesia. Dampaknya signifikan: pangsa produksi nikel Indonesia melonjak dari sekitar 30 persen pada 2020 menjadi lebih dari 60 persen pada 2025, menurut data U.S. Geological Survey

TerkaitTRT Indonesia - DSI resmi jadi eksportir tunggal komoditas strategis, Indonesia target dongkrak penerimaan negara

Produksi berbiaya rendah yang didukung investasi China turut menekan harga global dan menciptakan surplus pasokan. Kondisi ini memaksa sejumlah produsen berbiaya tinggi seperti Glencore, BHP, dan Sumitomo untuk menghentikan atau menjual operasi mereka.

Sejak pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai berjalan pada akhir 2024, arah kebijakan dinilai berubah. Pemerintah berfokus pada peningkatan penerimaan negara, termasuk melalui rencana pengendalian ekspor komoditas strategis dan penyesuaian berbagai kebijakan sektor pertambangan.

Meskipun nikel pig iron tidak termasuk dalam rencana pengendalian ekspor terbaru, pelaku industri menilai langkah-langkah seperti pengetatan kuota tambang, wacana kenaikan pajak, dan revisi harga acuan mineral telah meningkatkan kekhawatiran investor.

“Itu jelas berdampak negatif bagi industri,” ujar analis pertambangan Canaccord, Tim Hoff kepada Reuters. “Jika pemerintah menambah birokrasi dan mengatur harga jual komoditas, maka skala investasi akan terpengaruh.” tambahnya.

TerkaitTRT Indonesia - Indonesia pertimbangkan batas produksi nikel dan batu bara seiring harga menguat

Tekanan tersebut tercermin pada data investasi. Penanaman modal asing di Indonesia tercatat turun 6 persen pada 2025, berbalik dari pertumbuhan 19 persen pada tahun sebelumnya. Investasi di sektor pertambangan juga mencapai puncaknya pada 2024 sebelum mulai melandai.

Di sisi lain, peluang di luar negeri tidak sepenuhnya tanpa tantangan. Proyek baru di Madagaskar dan Tanzania menghadapi risiko lebih tinggi serta keterbatasan infrastruktur dibanding Indonesia. Selain itu, faktor politik dan biaya pengembangan juga menjadi pertimbangan utama.

Meski demikian, perubahan kebijakan di Indonesia turut mengangkat harga nikel ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir, memberikan harapan bagi proyek-proyek yang sebelumnya tertekan, termasuk Koniambo yang sempat ditutup pada 2024.

Dengan dinamika tersebut, langkah perusahaan China untuk mendiversifikasi investasi menunjukkan pergeseran strategi jangka panjang di tengah ketidakpastian pasar dan kebijakan, sekaligus menandai fase baru dalam persaingan industri nikel global.

TerkaitTRT Indonesia - Pembentukan DSI memicu kegelisahan di sektor pertambangan Indonesia: Laporan
SUMBER:Reuters