Pada pagi 3 Juni, kebakaran hebat melanda Flourish Stay B&B di kawasan Hauz Rani, Malviya Nagar, New Delhi, India. Bangunan bertingkat yang populer di kalangan wisatawan medis asing itu diketahui memiliki sejumlah pelanggaran keselamatan serius, seperti hanya memiliki satu akses keluar-masuk, jumlah kamar yang diduga melebihi izin, jendela yang terkunci, serta tidak memiliki izin keselamatan kebakaran yang memadai.
Sedikitnya 21 orang tewas, banyak di antaranya warga negara asing, sementara lebih dari 40 orang berhasil diselamatkan di tengah kepanikan ketika para tamu melompat dari lantai atas.
Ketika petugas penanganan darurat mendapat kritik karena dinilai terlambat tiba di lokasi, warga sekitar langsung bergerak. Mereka memecahkan jendela menggunakan palu, melemparkan tali, menggendong korban di pundak, memberikan CPR kepada orang-orang yang tidak sadarkan diri, termasuk pasangan warga asing dan warga Nigeria yang ditemukan di kamar mandi. Yang paling penting, mereka membentangkan kasur dan seprai di bawah untuk meredam benturan para korban yang melompat dari lantai atas. Sejumlah warga mengalami luka akibat pecahan kaca dan reruntuhan, tetapi tetap melanjutkan upaya penyelamatan.
Di antara mereka, warga Muslim setempat menjadi sosok yang paling menonjol.
Muslim yang mencakup sekitar 14 hingga 15 persen populasi India, dalam beberapa tahun terakhir menghadapi peningkatan kekerasan dan diskriminasi. Berbagai laporan dan survei mencatat sejumlah kasus seperti aksi main hakim sendiri terkait sapi, kesenjangan sosial-ekonomi, hingga retorika politik yang bernada anti-Muslim.
Umat Muslim di India juga kerap menghadapi stereotip yang mengaitkan mereka dengan ekstremisme atau dianggap tidak setia kepada negara, meski mereka telah lama menjadi bagian dari berbagai profesi, dunia seni, olahraga, bisnis, serta kehidupan sipil sehari-hari.
Di tengah situasi tersebut, kebakaran di Malviya Nagar menjadi pengecualian yang mencolok. Warga Muslim biasa, mulai dari pemilik toko, pengacara hingga pedagang, mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan orang-orang asing tanpa memandang agama, kewarganegaraan, maupun latar belakang mereka.
Mansoor dan Ishrar Khan menceritakan bagaimana mereka mengevakuasi para korban, sementara Ishrar menyaksikan pemandangan yang mengerikan.
"Saya membantu beberapa korban dan kulit mereka sampai terkelupas. Itu sangat mengerikan. Mereka semua berteriak," kata Ishrar, seperti dikutip The Indian Express.
Ia mengatakan pintu dan jendela yang terkunci membuat proses evakuasi menjadi sulit. "Jendelanya tidak bisa dibuka dengan cara digeser, jadi kami menggunakan palu untuk memecahkannya dan berhasil menyelamatkan tujuh orang dari ruang bawah tanah," ujarnya. Setelah berhasil masuk, ia membantu para tamu menuju atap sebelum mereka melompat ke kasur yang telah disiapkan di bawah.
Mansoor, warga setempat yang bekerja sebagai kontraktor bangunan, mengatakan api tampaknya berasal dari lantai satu. Saat kepanikan menyebar ke seluruh gedung, para penghuni mulai melompat dari jendela demi menyelamatkan diri.
"Orang-orang mulai melompat dari lantai satu. Kemudian mereka melompat dari lantai dua, tiga, dan empat. Kami membawa kasur dan meletakkannya di bawah agar mereka bisa mendarat di atasnya," ujarnya.
Sementara itu, Wasim Raza, yang tinggal di Hauz Rani, membantu memotong teralis untuk mencapai ruang bawah tanah dan memberikan CPR kepada sekitar 10 orang. Dua warga lainnya, Mohammad Afzal (35), seorang pengacara, dan Amir Khan (31), pemilik toko pasokan air, bersama sejumlah warga lain turut bergegas masuk dan mengangkat para korban selamat.
Armaan, pemilik usaha Munsoorei Cottons berusia 27 tahun, menyediakan 20 kasur dan 24 seprai. "Saya memberikan 20 kasur dan 24 seprai. Warga setempat membungkus para korban dengan seprai berlapis ganda dan membawa mereka keluar," katanya.
Pedagang kasur Riyazuddin, yang tokonya berada tepat di depan hotel, rela mengorbankan barang dagangannya senilai hampir 200.000 rupee India atau sekitar 2.090 dolar AS. Ia segera membentangkan kasur-kasur tersebut dan memperkirakan telah membantu menyelamatkan antara delapan hingga 12 orang sebelum petugas pemadam kebakaran tiba.
Dalam wawancara dengan NDTV India, ia menjelaskan bahwa sebagai warga yang telah mendapatkan pelatihan pertahanan sipil, dirinya langsung memahami situasi ketika melihat pintu utama terbakar dan mendengar teriakan minta tolong dari lantai atas.
"Kami membentangkan semua kasur di jalan dan meminta mereka melompat. Tujuh hingga delapan orang melompat dan nyawa mereka berhasil diselamatkan," ujarnya. Ia menambahkan bahwa dirinya dan sang putra mengalami luka-luka, tetapi merasa sangat puas karena dapat mengabdi kepada masyarakat.
Jurnalis Sunetra Choudhury melalui platform X turut menyoroti para penyelamat seperti Amir Khan, Mohd Shoaib, Wasim Raza, Mohd Afzal, serta Riyazuddin. Unggahan tersebut dan berbagai pemberitaan terkait kemudian menyebar luas, dengan banyak warga India memuji keberanian dan kemanusiaan mereka.
Seperti yang disampaikan salah seorang tokoh masyarakat setempat, CPR diberikan kepada para korban tanpa pernah menanyakan apakah mereka beragama Hindu atau Muslim.










