BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
IHSG tertekan hingga 4 persen di tengah aksi jual asing dan sentimen domestik
Pasar Indonesia juga dipengaruhi data terbaru yang menunjukkan surplus perdagangan turun ke level terendah dalam enam tahun, sementara inflasi mendekati batas atas target bank sentral.
IHSG tertekan hingga 4 persen di tengah aksi jual asing dan sentimen domestik
Pada sesi perdagangan (3/6), IHSG turun hingga 4,11 persen. / Reuters

Pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan tajam pada perdagangan Kamis (4/6), ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun lebih dari 100 poin atau sekitar 1,68 persen ke level 5.838.

Tekanan utama datang dari saham-saham berkapitalisasi besar, termasuk BREN, AMMN, TPIA, BYAN, MORA, INTP, hingga BRPT. Saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI juga melanjutkan pelemahan yang menekan indeks.

Sebelumnya, pada sesi perdagangan kemarin (3/6), IHSG turun hingga 4,11 persen atau 254 poin ke level 5.941, dengan aksi jual asing mencapai Rp 993,29 miliar. Tekanan tersebar di hampir seluruh sektor, termasuk material dasar, energi, dan infrastruktur yang masing-masing turun tajam.

Pilarmas Investindo Sekuritas menyebut aksi jual dipicu kombinasi faktor domestik dan global yang memicu sentimen risk-off di kalangan investor. Tekanan juga diperburuk oleh keputusan Moody’s Ratings yang memberikan prospek negatif terhadap Danantara Investment Management (DIM), meski tetap mempertahankan peringkat Baa2 yang sejalan dengan peringkat kredit Indonesia.

TerkaitTRT Indonesia - Rupiah tembus Rp18.000 per dolar AS, IHSG anjlok ke level terendah sejak 2020

Faktor geopolitik global

Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi pelemahan pasar dengan menyebut bahwa tekanan lebih banyak dipicu oleh sentimen dan rumor negatif di pasar. Ia menambahkan bahwa isu domestik turut mempengaruhi persepsi investor, termasuk spekulasi terkait kemungkinan penilaian ulang lembaga pemeringkat seperti S&P.

Purbaya juga meminta investor untuk tidak terlalu khawatir terhadap gejolak pasar saat ini, karena menurutnya fundamental ekonomi masih solid dan konsumsi masyarakat tetap berjalan.

Sementara itu, rupiah terus tertekan hingga mencapai Rp18.030 per dolar AS di tengah meningkatnya harga energi dan ketidakpastian geopolitik global. Pelemahan rupiah terjadi meskipun data inflasi masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia dan Indonesia mencatat surplus perdagangan pada April.

Sementara itu, Reuters melaporkan bahwa pasar Indonesia juga dipengaruhi data terbaru yang menunjukkan surplus perdagangan turun ke level terendah dalam enam tahun, sementara inflasi mendekati batas atas target bank sentral.

Sentimen negatif juga dipicu oleh kebijakan baru Amerika Serikat yang mengusulkan tarif tambahan 10 hingga 12,5 persen terhadap impor dari sejumlah negara, termasuk Indonesia.

TerkaitTRT Indonesia - Indonesia terdampak rencana tarif baru AS atas produk terkait tenaga kerja paksa


SUMBER:TRT Indonesia & Agensi