Tiga migran dari Myanmar tewas dan dua lainnya terluka setelah sebuah drone yang digunakan dalam perang sipil di negara mereka meledak di Thailand, negara tetangga, tempat mereka bekerja, kata polisi Thailand pada Rabu.
Otoritas Thailand menerima laporan tentang ledakan di provinsi Tak, yang berbatasan dengan negara bagian Karen di Myanmar, pada Selasa sore dan segera menuju ke lokasi, kata kepala polisi setempat Anusorn Dungkong kepada AFP.
"Tiga orang telah meninggal, semuanya pekerja migran Myanmar, dan dua lainnya terluka," katanya.
Drone penyerang yang diduga menabrak sebuah pohon di sisi perbatasan Thailand sebelum meledak, menewaskan para buruh yang bekerja di sebuah kebun cabai di dekat situ, tambah Anusorn.
Dua orang yang terluka, juga berasal dari Myanmar, dibawa ke rumah sakit setempat untuk perawatan, katanya.
Angkatan bersenjata Myanmar telah berperang melawan berbagai kelompok gerilya pro-demokrasi dan kelompok bersenjata etnis minoritas yang kuat sejak militer merebut kekuasaan dalam kudeta 2021.
Wilayah perbatasan Myanmar menjadi tempat berbagai faksi etnis minoritas, yang banyak di antaranya telah berperang melawan militer untuk otonomi dan penguasaan sumber daya alam yang menguntungkan sejak kemerdekaan negara itu dari Inggris pada 1948.
Baik militer maupun tentara etnis diketahui menggunakan drone dalam pertempuran, tetapi belum jelas pihak mana yang meluncurkan drone yang meledak di wilayah Thailand itu.
Faksi pemberontak Karen menguasai sebagian besar negara bagian itu, dan pertempuran hebat dengan militer pada Selasa membuat puluhan warga Myanmar melarikan diri menyeberang perbatasan ke Thailand, menurut laporan media lokal.




















