Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengunggah ilustrasi peta Venezuela di platform Truth Social miliknya dengan sisipan bendera Amerika Serikat dan tulisan “51st State” atau negara bagian ke-51.
Unggahan itu dipublikasikan saat Trump sedang dalam perjalanan menuju China untuk menghadiri pertemuan tingkat tinggi. Postingan tersebut muncul setelah pernyataannya kepada Fox News pada Senin (11/5) bahwa ia “secara serius mempertimbangkan” menjadikan negara Amerika Selatan itu sebagai negara bagian baru AS.
Presiden interim Venezuela, Delcy Rodriguez, menolak keras gagasan tersebut. Ia menegaskan negaranya “tidak pernah” mempertimbangkan menjadi negara bagian ke-51 AS, bahkan setelah pasukan Amerika menangkap pemimpin terguling Nicolas Maduro pada Januari lalu.
“Kami mencintai proses kemerdekaan kami, kami mencintai para pahlawan kemerdekaan kami, dan kami akan terus mempertahankan integritas, kedaulatan, serta kemerdekaan kami,” kata Rodriguez kepada wartawan di Mahkamah Internasional, Den Haag.
Rodriguez diketahui memimpin pemulihan hubungan dengan Washington sejak mengambil alih pemerintahan, termasuk melalui reformasi untuk membuka kembali sektor pertambangan dan minyak bagi perusahaan asing.
Meski demikian, ia menegaskan Venezuela tetap tidak akan mengorbankan kedaulatannya.
Presiden Kolombia Gustavo Petro turut mengecam pernyataan Trump dan menyebut gagasan tersebut “sepenuhnya bertentangan” dengan cita-cita tokoh kemerdekaan Amerika Latin, Simon Bolivar.
Petro menilai perubahan semacam itu tidak mungkin terjadi tanpa “kehendak rakyat Venezuela”.
Trump sebelumnya juga mengatakan AS telah mengendalikan negara kaya minyak tersebut setelah penangkapan Maduro pada 2 Januari.
Di tengah tuntutan oposisi Venezuela agar pemilu segera digelar, Rodriguez pada 1 Mei mengatakan dirinya “belum tahu” kapan pemungutan suara baru akan dilakukan dan hanya menyebut pemilu akan berlangsung “suatu saat nanti”.












