BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Sektor perbankan siap hadapi potensi kenaikan suku bunga di tengah tekanan Rupiah
Pelemahan rupiah memicu bank-bank di Indonesia menyiapkan strategi penguatan likuiditas dan manajemen risiko untuk mengantisipasi dampak kenaikan suku bunga BI.
Sektor perbankan siap hadapi potensi kenaikan suku bunga di tengah tekanan Rupiah
Bank sentral BI akan menaikkan suku bungan guna memulihkan pelemahan Rupiah yang capai level terendah baru-baru ini.

Bank-bank di Indonesia tengah menyiapkan langkah antisipasi seiring peluang kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) di tengah pelemahan rupiah yang berlanjut sepanjang Mei 2026. Industri menilai skenario ini sudah lama diperhitungkan dalam kerangka manajemen risiko masing-masing.

Presiden Direktur SMBC Indonesia, Henoch Munandar, mengatakan sektor perbankan pada prinsipnya siap menghadapi berbagai arah kebijakan moneter. Ia meyakini otoritas moneter memiliki strategi yang kuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar. 

“Saya percaya Bank Indonesia memiliki strategi yang solid untuk menjaga nilai tukar di negara kita. Perbankan dalam situasi apa pun harus memiliki manajemen risiko yang tangguh,” ujarnya dalam wawancara di Jakarta, Selasa (19/5) sebagaimana dikutip oleh Kompas.

TerkaitTRT Indonesia - Pemerintah siapkan intervensi Rp2 triliun per hari di pasar obligasi untuk stabilkan rupiah

Salah satu konsekuensi utama dari kenaikan suku bunga adalah meningkatnya biaya dana (cost of fund). Untuk meredam dampak tersebut, bank kini berupaya memperbesar porsi dana murah, termasuk melalui penguatan layanan transactional banking. 

Henoch menekankan ketergantungan pada deposito semata akan membuat biaya pendanaan lebih rentan terhadap perubahan suku bunga.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga juga berpotensi menekan kualitas kredit. Bunga pinjaman yang ikut naik dapat memengaruhi kemampuan bayar debitur. Karena itu, perbankan memperkuat uji ketahanan (stress test) dan evaluasi risiko untuk memastikan ketahanan nasabah terhadap perubahan kondisi ekonomi. 

“Kita harus melihat resiliensi kemampuan nasabah dalam mengantisipasi kenaikan suku bunga,” kata Henoch dikutip Kompas.

Meski tekanan eksternal meningkat, kondisi korporasi domestik dinilai lebih siap dibandingkan krisis 1998. Perusahaan kini lebih disiplin dalam mengelola pinjaman valuta asing dan aktif melakukan lindung nilai. Regulasi yang lebih ketat juga membatasi praktik pinjaman valas tanpa dukungan pendapatan dalam mata uang yang sama.

Namun demikian, volatilitas rupiah tetap menjadi perhatian, terutama karena ketergantungan industri terhadap impor bahan baku. Kendati begitu, perbankan nasional dinilai masih memiliki bantalan modal yang kuat. 

Rasio kecukupan modal (CAR) industri yang berada di kisaran 20 persen dinilai cukup untuk menyerap guncangan, selama tekanan ekonomi masih dalam batas yang dapat dikelola.

TerkaitTRT Indonesia - Rupiah melemah ke level terendah, pemerintah siapkan intervensi pasar obligasi
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi