DUNIA
2 menit membaca
Indonesia serukan perdamaian permanen di tengah gencatan senjata Lebanon-Israel
Indonesia menegaskan akan terus mendukung penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi, dengan harapan stabilitas kawasan dapat terjaga dan perdamaian yang berkelanjutan dapat tercapai.
Indonesia serukan perdamaian permanen di tengah gencatan senjata Lebanon-Israel
Asap membumbung di perbatasan Israel-Lebanon usai ledakan, sehari setelah gencatan senjata 10 hari mulai berlaku, pada 17 April 2026. / Reuters
3 jam yang lalu

Indonesia mendorong agar kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon tidak berhenti sebagai langkah sementara, serta mengharapkan menjadi perdamaian jangka panjang yang berkelanjutan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, menyatakan kepada Anadolu bahwa pemerintah terus mengikuti secara intensif dinamika perundingan kedua pihak. Ia menegaskan harapan Indonesia agar proses tersebut dapat menghasilkan kesepakatan permanen.

“Indonesia mengharapkan agar perundingan tersebut dapat menghasilkan gencatan senjata permanen,” ujarnya kepada Anadolu Ajansi.

Ia menambahkan, langkah lanjutan yang konkret diperlukan untuk menekan risiko jatuhnya korban sipil serta mencegah situasi kemanusiaan di Lebanon semakin memburuk. Dalam konteks itu, Indonesia juga menekankan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional, termasuk hukum humaniter, serta perlindungan terhadap masyarakat sipil.

Selain itu, Jakarta menggarisbawahi perlunya semua pihak menahan diri dan menghormati kedaulatan negara. “Indonesia menegaskan bahwa semua pihak harus menahan diri secara maksimal dan menghormati kedaulatan negara,” kata Nabyl.

Penyelesaian konflik 

Seruan ini disampaikan di tengah pemberlakuan gencatan senjata selama 10 hari yang diumumkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Kesepakatan tersebut mulai berlaku pada Kamis (16/4) pukul 21.00 GMT, setelah perundingan yang dimediasi AS di Washington, D.C. pada Selasa mempertemukan delegasi Israel dan Lebanon.

Sekretaris Jenderal United Nations, Antonio Guterres, menyambut upaya menuju perdamaian tersebut, dan meminta Hezbollah untuk mematuhi kesepakatan yang telah dicapai.

Sementara itu, perwakilan Hizbullah di parlemen Lebanon, Hassan Fadlallah, memandang gencatan senjata ini sebagai tahap awal. Ia menegaskan bahwa tujuan utama pihaknya mencakup penghentian total permusuhan, penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon, pemulangan warga yang mengungsi, pembebasan tahanan, serta percepatan rekonstruksi.

Sebelumnya, Indonesia juga menyoroti insiden yang melibatkan personel penjaga perdamaian yang tergabung dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), dan mendorong dilakukannya penyelidikan yang transparan terkait serangan tersebut.

Indonesia menegaskan akan terus mendukung penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi, dengan harapan stabilitas kawasan dapat terjaga dan perdamaian yang berkelanjutan dapat tercapai.

TerkaitTRT Indonesia - Indonesia dan sembilan negara desak perlindungan pekerja kemanusiaan di Lebanon
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi