Pemerintah Indonesia menyiapkan langkah strategis untuk meredam dampak lonjakan harga plastik terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), seiring tekanan biaya produksi yang meningkat akibat gangguan rantai pasok global.
Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, mengatakan kenaikan harga plastik yang signifikan memaksa banyak pelaku usaha menahan harga jual demi menjaga loyalitas konsumen, meski margin keuntungan terus tergerus.
“UMKM berupaya menjaga harga produk di mata masyarakat dan pembeli. Mereka tidak menaikkan harga, tetapi konsekuensinya keuntungan menyusut akibat biaya produksi yang meningkat,” ujarnya di Jakarta, pada Kamis.
Kementerian mencatat, sektor makanan dan minuman menjadi yang paling terdampak, dengan harga kemasan plastik naik antara 40 hingga 60 persen. Kondisi ini bahkan menyebabkan penurunan omzet hingga 50 persen di sejumlah pelaku usaha.
Gangguan pasokan bahan baku plastik, khususnya nafta, menjadi faktor utama. Bahan turunan minyak bumi tersebut sebagian besar berasal dari kawasan Timur Tengah, sementara sekitar 70 persen distribusinya melewati Selat Hormuz yang kini terdampak konflik geopolitik.
Impor bahan baku plastik
Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku plastik yang mencapai 55 persen memperbesar dampak gangguan global. Sementara itu, industri kemasan plastik domestik menguasai sekitar 67,61 persen pasar pada 2025, dengan sektor makanan sebagai kontributor utama.
Untuk mengatasi situasi tersebut, pemerintah bersama Kementerian Perdagangan menyiapkan langkah jangka pendek dengan membuka sumber pasokan alternatif dari wilayah yang lebih stabil, seperti Afrika, India, dan Amerika Serikat. Proses administratif tengah dipercepat agar distribusi dapat segera berjalan.
Dalam jangka panjang, pemerintah mendorong diversifikasi bahan baku sekaligus mempercepat pengembangan bioplastik berbasis sumber daya lokal seperti rumput laut, singkong, dan bambu.
Selain itu, sejumlah UMKM telah mulai memproduksi plastik berbasis rumput laut dan bahkan menembus pasar ekspor. Pemerintah berkomitmen memperkuat dukungan agar kapasitas produksi meningkat dan mampu memenuhi kebutuhan domestik.
Berbagai kebijakan pendukung juga tengah dikaji, termasuk subsidi penggunaan bioplastik, penguatan fasilitas kemasan bersama, serta pelatihan bagi pelaku usaha untuk mendorong praktik ramah lingkungan.
















