Türkiye diproyeksikan memperdalam keterlibatan dengan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) setelah resmi menjadi Mitra Dialog blok kawasan tersebut. Status baru ini membuka peluang kerja sama lebih luas, mulai dari perdagangan, ekonomi, hingga industri pertahanan dan energi.
Keputusan tersebut disepakati dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN ke-59 di Manila, Filipina. Langkah ini dinilai sebagai tonggak penting yang menandai fase baru hubungan Ankara dengan kawasan berpenduduk hampir 700 juta jiwa dan bernilai ekonomi lebih dari $4 triliun.
Seiring penguatan hubungan, kinerja perdagangan Türkiye dengan negara-negara ASEAN menunjukkan tren meningkat. Nilai ekspor Türkiye ke kawasan itu naik 17,1 persen dari $2,4 miliar pada 2021 menjadi $2,8 miliar pada 2025, dengan capaian $1,2 miliar pada Januari–Mei tahun ini.

Di sisi lain, impor melonjak 50,7 persen dari $8,8 miliar menjadi $13,3 miliar dalam periode yang sama, sementara impor lima bulan pertama tahun ini mencapai sekitar $6 miliar. Secara keseluruhan, volume perdagangan kedua pihak menyentuh $16,1 miliar pada 2025.
Dalam struktur ekspor, komoditas batu mulia dan logam berharga menjadi penyumbang terbesar dengan nilai $419,4 juta, disusul bahan bakar mineral senilai $412,9 juta dan mesin serta peralatan mekanis sebesar $268 juta.
Singapura tercatat sebagai tujuan ekspor utama Türkiye di ASEAN dengan nilai pengiriman mencapai $709,5 juta pada 2025. Malaysia dan Indonesia menyusul di posisi berikutnya, masing-masing dengan US$629,2 juta dan $481,2 juta.
Kunjungan Presiden Recep Tayyip Erdogan ke Malaysia dan Indonesia tahun lalu turut mendorong pembahasan kerja sama strategis di berbagai sektor. Selain perdagangan, investasi langsung Türkiye di ASEAN juga meningkat tajam, dari $106,5 juta pada 2023 menjadi $410,4 juta pada 2024.
Seorang pejabat terkait menilai status baru ini akan memperkuat posisi Türkiye di kawasan. “Langkah ini diharapkan membuka babak baru hubungan yang lebih erat dan saling menguntungkan,” ujarnya.























