Indonesia dan Amerika Serikat memperkuat peluang kerja sama perdagangan dan investasi, termasuk di sektor strategis seperti logam tanah jarang dan energi terbarukan.
Menteri Perdagangan Budi Santoso membahas peluang tersebut saat bertemu dengan Kamar Dagang AS atau U.S. Chamber of Commerce di sela-sela Pertemuan Menteri Perdagangan G20 di Milwaukee, Wisconsin, Rabu (30/9).
Dalam pertemuan itu, Budi menyampaikan bahwa Indonesia membuka peluang bagi perusahaan swasta AS untuk berinvestasi dalam berbagai sektor, mulai dari industri hilir dan produksi bernilai tambah hingga pengembangan pemasok.
Menurut Budi, peluang kerja sama juga terbuka pada sektor logam tanah jarang dan energi terbarukan yang dinilai strategis bagi kedua negara.
"Kami melihat potensi besar untuk memperdalam hubungan bisnis Indonesia dan AS, khususnya melalui penguatan perdagangan dan investasi, kerja sama teknologi yang lebih erat, serta rantai pasok yang lebih terintegrasi," kata Budi dalam keterangan di Jakarta, Jumat (2/10).
Budi dan perwakilan komunitas bisnis AS juga membahas perkembangan Perjanjian Perdagangan Timbal Balik atau Agreement on Reciprocal Trade (ART).
Budi berharap perjanjian tersebut dapat segera diterapkan dan dimanfaatkan oleh kedua negara untuk memperkuat hubungan perdagangan.
Sementara itu, Wakil Presiden sekaligus Direktur Eksekutif Kebijakan Internasional Kamar Dagang AS Isabelle Icso menyambut positif upaya peningkatan kerja sama bisnis dengan Indonesia.
Icso menyampaikan empat fokus utama B20, yakni mengurangi kebijakan yang membatasi perdagangan, memodernisasi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), menghapus bea masuk untuk perdagangan digital, serta memperkuat investasi lintas batas.
Komunitas bisnis AS juga menawarkan kerja sama dalam peningkatan kapasitas dan penyediaan solusi pembayaran digital bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia.






















