BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Pertamina dan Boeing jajaki pengembangan bahan bakar pesawat berkelanjutan di Indonesia
Pertamina dan Boeing menandatangani nota kesepahaman untuk mengembangkan industri Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia guna mendukung target pengurangan emisi sektor penerbangan.
Pertamina dan Boeing jajaki pengembangan bahan bakar pesawat berkelanjutan di Indonesia
Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri (kelima kiri). Foto: Pertamina

PT Pertamina menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan produsen pesawat asal Amerika Serikat, Boeing, untuk menjajaki peluang pengembangan industri Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan di Indonesia.

Dalam keterangan resminya, Pertamina menyebut kerja sama tersebut bertujuan mendukung upaya Indonesia mendekarbonisasi sektor penerbangan sekaligus mendorong pencapaian target emisi nol bersih (net-zero emissions).

Melalui kerja sama ini, kedua perusahaan akan mengidentifikasi sumber bahan baku (feedstock), mengembangkan teknologi SAF, serta mendukung penyusunan kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

"Kami yakin kolaborasi ini akan mempercepat pengembangan industri SAF yang kompetitif sekaligus menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian Indonesia," ujar Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri.

Managing Director Boeing Indonesia Indra Duivenvoorde mengatakan Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin pengembangan penerbangan berkelanjutan di kawasan.

Menurut proyeksi Boeing, lalu lintas penumpang di Asia Tenggara akan tumbuh sekitar 7 persen per tahun hingga 2044. Pertumbuhan tersebut diperkirakan mendorong kebutuhan hampir 4.900 pesawat baru, sementara penggunaan SAF diharapkan dapat membantu menekan emisi karbon dari sektor penerbangan.

Pertamina sendiri telah menjalankan sejumlah inisiatif pengembangan SAF, mulai dari produksi dan sertifikasi bahan bakar tersebut, pemanfaatannya oleh anak usaha Pelita Air, hingga proyek Cilacap Biorefinery yang memproduksi SAF menggunakan minyak jelantah dan bahan baku berkelanjutan berbasis limbah lainnya.

SUMBER:TRT Indonesia