PERANG GAZA
2 menit membaca
Aktivis flotilla Gaza Australia menceritakan kembali penyiksaan dan pelecehan seksual saat ditahan di Israel
Sebanyak 11 warga Australia yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla mengaku mengalami kekerasan, termasuk dugaan penyiksaan dan kekerasan seksual, saat ditahan militer Israel.
Aktivis flotilla Gaza Australia menceritakan kembali penyiksaan dan pelecehan seksual saat ditahan di Israel
Para anggota Flotilla Global ke Gaza asal Australia tiba kembali di Bandara Internasional Sydney. / Reuters

Sejumlah aktivis Australia yang terlibat dalam misi kapal bantuan kemanusiaan menuju Gaza mulai kembali ke negara mereka dan mengungkap pengalaman penahanan yang disebut penuh kekerasan oleh militer Israel.

Sebanyak 11 warga Australia menjadi bagian dari ratusan aktivis internasional dalam Global Sumud Flotilla yang dicegat dan ditahan oleh militer Israel di perairan internasional pekan lalu.

Sejumlah aktivis, termasuk warga Australia, mengaku mengalami kekerasan fisik seperti patah tulang, disetrum di bagian wajah, hingga disuntik zat yang tidak diketahui. Hal itu dilaporkan oleh SBS News.

Kekerasan fisik, kekerasan seksual

Aktivis Violet Coco yang tiba di Bandara Melbourne pada Senin pagi menyebut para aktivis mengalami pemukulan, penyiksaan, hingga kekerasan seksual selama masa penahanan.

Ia menambahkan bahwa sejumlah tahanan mengalami patah tulang dan cedera kepala, sementara sebagian lainnya tidak mendapatkan insulin maupun obat tekanan darah selama beberapa hari.

“Para tahanan didorong melewati ruangan gelap, diraba, dan dipukuli berulang kali,” kata Coco.

Aktivis Gemma O’Toole, 23 tahun, menjadi salah satu yang pertama kembali ke Australia pada Minggu malam. Ia mengatakan kepada ABC bahwa para aktivis mengalami kekerasan fisik dan kekerasan seksual saat ditahan.

Sementara itu, Surya McEwen, pekerja perawatan kesehatan dari New South Wales, menyebut ini merupakan percobaan ketiganya dalam misi pengiriman bantuan ke Gaza. Ia mengaku ditahan selama 80 jam dan dipukuli di dalam ruangan saat tentara Israel menyanyikan lagu kebangsaan.

McEwen menyamakan kapal penahanan yang digunakan Israel seperti kamp tahanan perang, dengan fasilitas terbatas, minim tempat tidur, sedikit toilet, serta adanya penembakan peluru karet secara acak oleh aparat.

Sejumlah anggota delegasi bantuan tersebut menyebut saat ini mereka tengah berkonsultasi dengan tim hukum untuk mengumpulkan bukti yang akan diajukan ke International Criminal Court (ICC), guna mendukung dugaan pelanggaran terhadap warga Palestina.

SUMBER:TRT World & Agencies