ASIA
2 menit membaca
Warga yang mengungsi akibat gempa NTT tembus 92 ribu, ribuan sekolah dan fasum rusak
Hingga hari ini, aktivitas seismik masih berlangsung dengan total 3.752 gempa susulan tercatat sejak guncangan utama.
Warga yang mengungsi akibat gempa NTT tembus 92 ribu, ribuan sekolah dan fasum rusak
Tenda pusat kesehatan di titik pengungsian warga usai gempa porak-porandakan NTT minggu lalu.

Jumlah warga yang terpaksa mengungsi akibat rangkaian gempa kuat di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus meningkat, melampaui 92 ribu orang hingga Kamis (20/8). Bencana yang dipicu gempa bermagnitudo 7,7 pada akhir pekan lalu itu juga memicu ribuan gempa susulan dan menyebabkan kerusakan luas di berbagai sektor.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya 92.375 orang kini berada di pengungsian. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, mengatakan jumlah tersebut terus bertambah seiring pendataan di lapangan. 

“Jumlah pengungsi telah mencapai 92.375 orang,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Selain memaksa puluhan ribu warga meninggalkan rumah, gempa juga menimbulkan korban jiwa dan luka-luka. Hingga kini, korban meninggal tercatat sebanyak 75 orang, sementara 907 lainnya mengalami cedera.

TerkaitTRT Indonesia - Gempa susulan M5,7 guncang Flores, SAR perluas evakuasi kelompok rentan

Di sisi lain, aktivitas seismik masih berlangsung dengan total 3.752 gempa susulan tercatat sejak guncangan utama.

Kerusakan infrastruktur pun meluas, terutama di wilayah yang terdampak paling parah seperti Provinsi NTT, termasuk kawasan pariwisata Labuan Bajo. BNPB melaporkan sebanyak 36.163 rumah dan bangunan mengalami kerusakan dengan tingkat keparahan bervariasi.

Dampak gempa juga merembet ke sektor pendidikan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat sedikitnya 1.377 sekolah mengalami kerusakan. Wakil Menteri Atip Latipulhayat menyatakan pemerintah telah menyiapkan panduan pembelajaran darurat guna memastikan kegiatan belajar tetap berlangsung di tengah kondisi bencana.

Upaya tanggap darurat, termasuk distribusi bantuan dan pemulihan awal, masih terus dilakukan di wilayah terdampak, sementara pemerintah berupaya mempercepat penanganan bagi para pengungsi serta pemulihan layanan dasar.

SUMBER:AA, TRT Indonesia