Menteri Keuangan dan Perbendaharaan Türkiye, Mehmet Simsek, menyatakan bahwa perang di Timur Tengah akan mengubah secara mendasar lanskap ekonomi dan keamanan kawasan tersebut, serta mempercepat upaya untuk mengurangi ketergantungan strategis, mendiversifikasi jalur perdagangan, dan memperkuat kerja sama regional.
Berbicara dalam panel TRT World Forum pada hari Sabtu (7/11) yang bertajuk "Menuju Pemulihan yang Penuh Tantangan: Ekonomi Nasional Pasca-Perang di Timur Tengah", Simsek memperingatkan bahwa konflik tersebut telah memicu guncangan pasokan yang besar, terutama di pasar energi, dengan dampak yang meluas jauh melampaui kawasan tersebut.
"Apa yang kita alami saat ini skalanya dua kali lipat dari embargo minyak tahun 1973-1974 dan tujuh kali lipat dari gangguan energi akibat konflik Rusia-Ukraina," ujarnya, merujuk pada besarnya skala gangguan tersebut.
Simsek mencatat bahwa sebagian besar wilayah tersebut telah mengalami resesi, sementara negara-negara yang berada di garis depan konflik menderita penurunan ekspor dan impor yang signifikan.
Secara global, pertumbuhan ekonomi melambat dan kondisi keuangan menjadi lebih ketat di tengah tingginya inflasi, yang sebagian dipicu oleh konflik tersebut.
Mengutip studi Dana Moneter Internasional (IMF) yang menelaah 170 konflik sejak tahun 1946, ia menyatakan bahwa perang biasanya mengakibatkan hilangnya output sebesar 3% hingga 7%. Ia menambahkan bahwa pemulihan yang berkelanjutan bergantung pada tercapainya perdamaian yang langgeng.
"Jika tidak ada perdamaian yang langgeng, akan sangat sulit untuk membicarakan pemulihan yang berkelanjutan," katanya.
Posisi strategis Türkiye
Simsek berpendapat bahwa konflik ini akan mendorong berbagai negara untuk meninjau kembali ketergantungan strategis mereka, khususnya ketergantungan pada jalur maritim krusial seperti Selat Hormuz.
Menurutnya, pemerintah berbagai negara kemungkinan akan berinvestasi lebih besar pada koridor perdagangan alternatif, infrastruktur, ketahanan energi, dan konektivitas regional guna mengurangi kerentanan terhadap gangguan di masa depan.
Sang menteri juga menekankan perlunya memperkuat integrasi ekonomi di seluruh kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA), di mana perdagangan antarnegara di kawasan tersebut masih relatif terbatas dibandingkan dengan wilayah lain di dunia.
Berdasarkan perbandingan yang dipaparkan Simsek, sementara perdagangan di dalam Eropa mencakup sekitar 67 persen dari total perdagangan regional dan mencapai 59 persen di Asia Timur dan Pasifik, angka tersebut hanya mencapai 15 persen di Amerika Latin dan Karibia.
Ia menyatakan bahwa diversifikasi ekonomi akan menjadi kunci untuk meningkatkan perdagangan di dalam kawasan MENA.
Upaya mediasi Türkiye
Mengenai posisi Türkiye, Simsek menegaskan bahwa Ankara tetap berkomitmen pada perdagangan berbasis aturan dan integrasi ekonomi regional, meskipun terdapat kecenderungan proteksionisme yang kian meningkat di seluruh dunia.
Türkiye telah 54 perjanjian perdagangan bebas yang mencakup hampir 70% ekspornya, sementara negosiasi untuk perjanjian generasi baru sedang berlangsung dengan Jepang, Indonesia, Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), dan Kanada.
Ia juga menyoroti peran Türkiye dalam proyek-proyek konektivitas regional, termasuk "Koridor Tengah" (Middle Corridor) yang menghubungkan Beijing dengan London, serta proyek "Jalan Pembangunan" (Development Road) yang menghubungkan kawasan Teluk dan Irak dengan Türkiye serta pasar Eropa.
Simsek mengatakan bahwa Türkiye juga menjalankan inisiatif diplomatik dan upaya mediasi, termasuk keterlibatan dalam perjanjian damai Armenia-Azerbaijan, upaya memfasilitasi negosiasi antara Rusia dan Ukraina, serta partisipasi dalam upaya mewujudkan perdamaian di Gaza.
Memperkuat kapabilitas pertahanan
Namun, ia menekankan bahwa investasi dalam perdamaian harus dibarengi dengan penguatan kapabilitas pertahanan.
Industri pertahanan Türkiye yang terus berkembang—mencakup sekitar 4.000 perusahaan dengan 1.400 hingga 1.500 proyek yang sedang berjalan—kini menjadi aset yang semakin penting.
Simsek menyebutkan bahwa pesanan peralatan pertahanan Türkiye mencapai sekitar $18 miliar pada tahun lalu, sementara negara tersebut menempati peringkat ke-11 di antara eksportir pertahanan global.
Ia juga menyoroti potensi peran Türkiye dalam rekonstruksi pasca-konflik, dengan perkiraan bahwa kebutuhan rekonstruksi di wilayah tetangga yang terdampak konflik dapat mencapai setidaknya $1 triliun dalam satu dekade mendatang.
Menutup pernyataannya, Simsek mengatakan bahwa Türkiye berada dalam posisi yang tepat untuk memperoleh manfaat dari integrasi regional yang lebih luas, berkat basis industri, infrastruktur, serta sektor jasa yang terus berkembang.
"Perang bukanlah kepentingan kami. Kami justru paling diuntungkan oleh stabilitas, perdamaian, dan kemakmuran di kawasan ini," ujarnya.























