DUNIA
2 menit membaca
Paviliun Indonesia di COP31 bakal pamer aksi iklim dan peluang perdagangan karbon
Indonesia siap menghadirkan Paviliun Indonesia di COP31 Antalya sebagai wadah diplomasi lunak. Paviliun ini akan memamerkan berbagai aksi iklim nasional hingga peluang kerja sama ekonomi dan perdagangan karbon.
Paviliun Indonesia di COP31 bakal pamer aksi iklim dan peluang perdagangan karbon
COP31. Foto:AA

Pemerintah Indonesia bakal memanfaatkan ajang Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP31) di Antalya, Türkiye, untuk memamerkan berbagai solusi iklim nasional. Kehadiran Paviliun Indonesia dirancang sebagai sarana diplomasi lunak (soft diplomacy) yang memperkuat posisi tawar Indonesia dalam perundingan iklim global.

Hal tersebut disampaikan Kementerian Lingkungan Hidup dalam pengarahan pers dan diskusi bertajuk "Teman Lingkungan Road to COP31 UNFCCC, Indonesia: Delivering Climate Solutions at Scale" di Jakarta, Selasa (3/11).

Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Lingkungan Hidup, Yulia Suryanti, menjelaskan bahwa diplomasi keras (hard diplomacy) dan diplomasi lunak merupakan dua hal yang saling melengkapi dalam negosiasi iklim.

"Keduanya harus berjalan beriringan dan masing-masing memiliki peran," ujar Yulia.

Sementara itu, penanggung jawab Paviliun Indonesia, Laksmi Widjayanti, mengungkapkan bahwa paviliun tahun ini mengusung tema “enhancing climate resilience through collaborative action and strategic net zero pathway”. Tema ini menegaskan komitmen Indonesia dalam meningkatkan ketahanan iklim melalui aksi kolaboratif dan jalur strategis menuju netralitas karbon (net zero emission).

Laksmi, yang juga menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup Bidang Sumber Daya Pangan, Sumber Daya Alam, Energi, dan Kualitas Lingkungan, merincikan empat tujuan utama dari pendirian Paviliun Indonesia di COP31:

  1. Suara Inovasi Nasional: Menyuarakan berbagai langkah strategis dan inovasi iklim Indonesia kepada masyarakat internasional.

  2. Nilai Ekonomi & Perdagangan Karbon: Mempromosikan program-program iklim nasional yang berpotensi diperdagangkan di pasar karbon, sehingga memberikan nilai ekonomi bagi upaya pelestarian lingkungan.

  3. Akuntabilitas Target Sektor: Menjadi sarana bagi kementerian-kementerian penanggung jawab Nationally Determined Contribution (NDC) untuk memaparkan pencapaian target iklim di sektor masing-masing.

  4. Wadah Kolaborasi: Menjadi ruang pertemuan strategis bagi para pemangku kepentingan global.

Pihak UNFCCC memperkirakan konvensi COP31 di Antalya akan dihadiri sekitar 100.000 peserta dari berbagai belahan dunia. Laksmi optimistis besarnya skala perhelatan ini dapat menjadi momentum tepat untuk mempertemukan para pengembang dan mitra global guna menjajaki kerja sama konkret di bidang lingkungan.

TerkaitTRT Indonesia - Sambut COP31, Türkiye undang jurnalis Indonesia dan 14 negara unjuk inovasi iklim dan ekosistem laut
SUMBER:TRT Indonesia