Gunung Semeru di Jawa Timur mengalami tiga kali erupsi yang disertai awan panas guguran secara beruntun pada Kamis (5/11), dengan jarak luncur terjauh mencapai 4,5 kilometer dari puncak ke arah tenggara.
Aktivitas Semeru tersebut mendorong petugas mengingatkan masyarakat, terutama yang berada di sekitar aliran Sungai Besuk Kobokan, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi guguran susulan.
Erupsi pertama terjadi pukul 06.33 WIB dengan kolom abu setinggi sekitar 700 meter di atas puncak. Abu berwarna kelabu dan berintensitas tebal bergerak ke arah selatan dan barat daya. Aktivitas tersebut tercatat pada seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan durasi 224 detik, disertai awan panas sejauh 3 kilometer.
Dua erupsi berikutnya terjadi pada pukul 08.43 WIB dan 09.24 WIB. Awan panas masing-masing meluncur sejauh 3,5 kilometer dan 4,5 kilometer ke arah tenggara. Pada erupsi terakhir, aktivitas terekam dengan amplitudo maksimum 31 milimeter dan durasi 447 detik, sementara kolom abu kembali mencapai sekitar 700 meter di atas puncak.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, sebagaimana dikutip oleh RRI, mengatakan awan panas bergerak menuju Sungai Besuk Kobokan, sedangkan abu vulkanik menyebar ke arah selatan dan barat daya.
Dengan status aktivitas vulkanik Level III atau Siaga, masyarakat dilarang beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak. Larangan juga berlaku dalam radius 500 meter dari sempadan sungai karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer.
Selain itu, warga diminta menjauhi radius 5 kilometer dari kawah akibat risiko lontaran batu pijar. Kewaspadaan juga diperlukan di sepanjang aliran Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta sungai-sungai kecil yang menjadi anak sungai Besuk Kobokan.


















