IKLIM
2 menit membaca
Kekeringan landa Grobogan, ratusan keluarga bergantung pada pasokan air bersih darurat
Kekeringan di Grobogan meluas hingga 81 desa. Warga terpaksa konsumsi air kubangan keruh di tengah percepatan bantuan air bersih oleh BPBD dan ancaman puncak El Nino.
Kekeringan landa Grobogan, ratusan keluarga bergantung pada pasokan air bersih darurat
Musim kemarau mengancam pasokan air di Jawa Tengah. / َAA

Bencana kekeringan dan krisis air bersih akibat musim kemarau panjang kian meluas di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Berdasarkan data penanganan bencana daerah, dampak kekeringan parah kini telah melanda sedikitnya 81 desa yang tersebar di 18 kecamatan.

Cuaca kering ekstrem yang berlangsung selama hampir tiga bulan terakhir menyebabkan cadangan air tanah menyusut drastis, membuat ribuan keluarga kian terdesak dan bergantung pada bantuan logistik darurat.

Krisis air bersih dan perjuangan warga di lapangan

Kondisi di lapangan menunjukkan situasi yang kian mengkhawatirkan setelah sebagian besar sumur gali milik warga dan sumber air komunal mengering total. Mengeringnya aliran sungai memaksa masyarakat di sejumlah desa nekat menggali dasar sungai demi mendapatkan sisa rembesan air tanah.

Di beberapa titik, warga bahkan terpaksa memanfaatkan serta mengonsumsi air kubangan yang keruh dan berbau akibat ketiadaan pilihan lain untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Dampak krisis air ini juga memukul kawasan lereng Pegunungan Karst Kendeng, khususnya di Desa Sugihmanik. Lebih dari 500 kepala keluarga di kawasan tersebut mengalami gangguan pasokan air bersih setelah dua mata air utama, termasuk Sendang Sari, mengalami penurunan debit signifikan selama lima tahun berturut-turut saat musim kemarau.

Keterbatasan pasokan membuat kedatangan armada bantuan air (dropping) langsung diserbu warga yang membawa jeriken dan ember. Tingginya kekhawatiran tidak kebagian jatah air kerap memicu antrean panjang hingga aksi saling dorong antarwarga di lokasi penyaluran logistik.

Langkah tanggap darurat dan ancaman El Nino

Merespons krisis yang terus meluas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Grobogan bersama Palang Merah Indonesia (PMI) dan instansi terkait terus mengintensifkan distribusi bantuan air bersih.

Ratusan armada tangki dikerahkan secara bergilir ke titik-titik wilayah yang paling kritis. Pemerintah daerah juga membuka posko darurat dan mengimbau masyarakat untuk segera melapor melalui saluran siaga terpadu agar pengerahan bantuan dapat langsung diarahkan ke lokasi yang membutuhkan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa musim kemarau tahun 2026 berpotensi lebih kering dibanding kondisi normal akibat penguatan fenomena iklim El Nino.

Puncak kekeringan yang diprakirakan berlangsung hingga September ini diperkirakan terus meningkatkan risiko krisis air bersih berkepanjangan, ancaman gagal panen di sektor pertanian, serta potensi kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah Jawa Tengah.

SUMBER:TRT Indonesia & Agensi