Tim satgas darurat gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat (BKSDA Kalbar) dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) merescue enam individu orangutan kalimantan yang terjebak di kebun warga di Kabupaten Kayong Utara.
Evakuasi darurat dilakukan dalam dua tahap pada 4 dan 8 September 2026 di Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir. Satwa yang diselamatkan terdiri dari dua pasangan induk-anak—Mama Nopi bersama anaknya Nopi, serta Mama Noni dengan bayinya yang berusia 1–2 bulan—serta dua orangutan jantan remaja bernama Naufal dan Nopan.
Kobaran api karhutla yang membakar kawasan tersebut berjarak hanya sekitar 200 meter dari lokasi perkebunan. Kondisi ini memutus jalur pergerakan tajuk pohon (canopy corridor) menuju hutan, sehingga memicu ancaman dehidrasi, kelaparan, dan potensi konflik dengan warga.
Saat operasi penyelamatan berlangsung, tim medis hewan memberikan perawatan darurat berupa infus, bantuan oksigen, dan kompres dingin. Tindakan ini dilakukan untuk menstabilkan kondisi Mama Noni dan Nopan yang mengalami heat exhaustion berat dengan suhu tubuh mencapai 40 derajat Celsius.
Dengan penyelamatan ini, total orangutan yang dievakuasi BKSDA Kalbar dan YIARI akibat kebakaran hutan dalam kurun satu bulan terakhir mencapai 15 individu. Seluruh satwa kini menjalani observasi medis intensif di Pusat Rehabilitasi Orangutan YIARI sebelum dikembalikan ke habitat aslinya.
Direktur Operasional Program YIARI Argitoe Ranting menjelaskan bahwa kerusakan tajuk pohon memaksa orangutan berpindah dari satu kebun ke kebun lain demi bertahan hidup. Hal tersebut berisiko tinggi memicu konflik satwa dengan masyarakat lokal.
Sementara itu, Kepala BKSDA Kalbar Murlan Dameria Pane menegaskan pentingnya pencegahan karhutla serta partisipasi warga untuk melapor jika menemukan satwa lindung yang terjebak. Ia menyebut operasi penyelamatan satwa terdampak kebakaran sebagai upaya kejar-kejaran dengan waktu.
























