Pemerintah Jepang mengerahkan tiga unit helikopter angkut CH-47 Chinook beserta 180 kru ke Indonesia pada akhir pekan ini untuk membantu menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah ini diambil seiring meningkatnya upaya penanganan karhutla di enam provinsi terdampak paling parah di Pulau Sumatera dan Kalimantan.
Kementerian Pertahanan RI mengonfirmasi bahwa armada helikopter tersebut dijadwalkan tiba pada Rabu (9/9) dan disiagakan di Pontianak, Kalimantan Barat. Lokasi ini dipilih karena menjadi salah satu wilayah dengan dampak karhutla terparah.
"Helikopter akan melakukan uji terbang terlebih dahulu sebelum beroperasi penuh pada 12 hingga 19 September," ujar pejabat Kementerian Pertahanan RI, Tri Budi Utomo, dalam konferensi pers seperti dikutip dari Reuters.
Penyebaran titik api di wilayah Indonesia semakin diperparah oleh masuknya musim kemarau sejak Juni lalu. Pemerintah Indonesia sendiri telah mengoperasikan lebih dari 50 pesawat untuk operasi pengemboman air (water bombing) dan teknologi modifikasi cuaca (penaburan garam). Bulan September diprediksi menjadi puncak pertempuran melawan karhutla.
Kabut asap tebal akibat karhutla ini telah memicu lonjakan polusi udara di berbagai wilayah terdampak, sekaligus menimbulkan kekhawatiran dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.
Tiga helikopter Chinook tersebut diangkut menggunakan kapal perang JS Kunisaki bersama 150 personel kapal. Kapal ini sebelumnya kerap dikerahkan dalam penanggulangan bencana dan misi kemanusiaan. Operasi pemadaman udara ini nantinya akan bersifat adaptif dan dinamis mengikuti pergerakan titik panas (hotspot).
Tri menambahkan bahwa situasi karhutla di Kalimantan dan Sumatera masih sangat dinamis. TNI telah menerjunkan ribuan personel untuk memadamkan api melalui jalur darat dan udara.
Juru bicara TNI, Muhammad Nas, mengungkapkan bahwa kendala utama tim di lapangan adalah minimnya ketersediaan sumber air. Untuk mengatasi masalah tersebut, personel TNI di lapangan mulai melakukan pengeboran titik air di sejumlah wilayah terdampak.




















