BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Ekspor sawit dorong kinerja perdagangan RI, nilai non migas tembus $160 miliar
Data resmi BPS menunjukkan bahwa ekspor crude palm oil (CPO) dan produk turunannya menjadi salah satu pendorong utama ekspor non migas, dengan pertumbuhan 5,49 persen secara tahunan.
Ekspor sawit dorong kinerja perdagangan RI, nilai non migas tembus $160 miliar
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai capaian tersebut mencerminkan Indonesia sebagai produsen sawit utama dunia. /Kementan

Kinerja ekspor Indonesia sepanjang Januari–Juli 2026 menunjukkan penguatan yang konsisten, ditopang oleh lonjakan komoditas unggulan sektor pertanian, khususnya minyak kelapa sawit. 

Data resmi menunjukkan nilai ekspor nonmigas mencapai $160,01 miliar, naik 5,21 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sementara total ekspor nasional tercatat $167,03 miliar atau tumbuh 4,43 persen. Di balik tren tersebut, ekspor crude palm oil (CPO) dan produk turunannya menjadi salah satu pendorong utama, dengan pertumbuhan 5,49 persen secara tahunan. Kinerja ini mencerminkan peran strategis komoditas sawit dalam menjaga momentum perdagangan luar negeri Indonesia.

Penguatan ini tidak terlepas dari kenaikan harga komoditas global, termasuk kenaikan harga minyak sawit. Kontribusi sawit juga terlihat pada kelompok lemak dan minyak hewani/nabati (HS15), yang menjadi salah satu penopang utama ekspor nonmigas.

Di sisi lain, hilirisasi produk berbasis sawit turut mendorong sektor industri pengolahan, yang tumbuh 7,16 persen pada periode yang sama. Hal ini menandakan bahwa nilai tambah tidak lagi hanya berasal dari ekspor bahan mentah, tetapi juga dari produk olahan yang lebih kompetitif di pasar global.

TerkaitTRT Indonesia - Kemendag terapkan aturan teknis sentralisasi ekspor batubara, CPO, dan ferroalloy

Mentan: Hilirisasi untuk peningkatan nilai tambah

Permintaan dari pasar utama seperti China semakin memperkuat tren ini. Sepanjang tujuh bulan pertama 2026, ekspor nonmigas Indonesia ke negara tersebut mencapai $40,62 miliar, melonjak 18,01 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan produk sawit menjadi salah satu kontributor penting.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai capaian tersebut mencerminkan kekuatan struktural Indonesia sebagai produsen sawit utama dunia. “Jangan hanya ekspor bahan mentah, tetapi kita dorong hilirisasi supaya nilai tambahnya semakin besar,” katanya.

Ia menekankan bahwa penguatan ekspor harus berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas di tingkat hulu serta pengembangan industri di hilir. Menurutnya, strategi ini penting agar manfaat ekonomi tidak hanya tercermin dalam angka perdagangan, tetapi juga dirasakan langsung oleh petani dan pekebun.

Dengan dorongan peremajaan tanaman, penggunaan benih unggul, serta ekspansi industri pengolahan, pemerintah menargetkan sektor pertanian tidak hanya menjadi penopang ekspor, tetapi juga motor peningkatan kesejahteraan. 

“Yang paling penting adalah bagaimana nilai tambah itu kembali kepada petani dan pekebun,” ujar Amran.

Ke depan, kombinasi antara produktivitas dan hilirisasi dipandang sebagai kunci untuk memperluas pangsa pasar global sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai eksportir produk pertanian bernilai tambah tinggi.

TerkaitTRT Indonesia - Ekspor CPO Indonesia diproyeksikan turun akibat penerapan biodiesel B50
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi