Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membuka peluang kerja sama pendidikan dengan Awwamah Center Indonesia (ACI) guna memperluas akses santri ke studi keagamaan di Türkiye, seiring upaya daerah tersebut meningkatkan kualitas dan jangkauan pendidikan pesantren.
Penjajakan ini dibahas saat Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menerima Direktur ACI Syekh Muhyiddin Awwamah di Semarang, Kamis (3/9). Dalam pertemuan itu, ACI memperkenalkan jaringan lembaga pendidikan hadis yang dikelolanya di Türkiye sekaligus menawarkan skema beasiswa bagi santri Indonesia.
“Beliau memberikan beasiswa kepada santri-santri yang ingin melanjutkan pendidikan, khususnya pendidikan hadis di pondok beliau,” ujar Taj Yasin, yang akrab disapa Gus Yasin, sebagaimana dikutip dari Antara.
Program yang ditawarkan mencakup pembelajaran daring selama satu tahun. Peserta yang lulus evaluasi akan diberangkatkan ke Türkiye untuk mengikuti pembelajaran intensif sekitar satu bulan, dengan fasilitas tempat tinggal dan konsumsi.

Bagi Pemprov Jateng, inisiatif ini dinilai sejalan dengan agenda memperluas akses pendidikan santri. Provinsi ini memiliki sekitar 5.378 pondok pesantren dan tengah mengembangkan skema beasiswa melalui Lembaga Fasilitasi Sinergi Pesantren (LFSP). Tahun ini, sebanyak 73 santri memperoleh beasiswa, dengan 15 di antaranya melanjutkan studi ke luar negeri seperti Yaman, Mesir, dan China.
Dari sisi ACI, kerja sama dengan Indonesia merupakan bagian dari ekspansi pendidikan hadis secara global. Syekh Muhyiddin menyebut lembaganya telah terhubung dengan lebih dari 70 negara dan sekitar 250 pusat pendidikan hadis. Di Indonesia sendiri, ACI telah bermitra dengan sekitar 40 institusi, mulai dari pesantren hingga perguruan tinggi keagamaan.
Ia menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan studi hadis karena jumlah pesantren yang besar dan perhatian terhadap pendidikan agama. Namun, ia menekankan bahwa bidang hadis masih perlu diperkuat.
“Selama ini banyak lembaga lebih fokus pada fikih, tasawuf, akidah, dan bahasa Arab, sementara pendidikan kader hadis masih terbatas,” ujarnya.



























