BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Kemenkeu pastikan siap tanggung utang Kereta Cepat Whoosh tanpa investor luar
Langkah restrukturisasi diambil pemerintah melalui pengalihan kepemilikan saham guna membebaskan beban finansial BUMN dan menjaga kelangsungan operasional Whoosh.
Kemenkeu pastikan siap tanggung utang Kereta Cepat Whoosh tanpa investor luar
Staf menyambut penumpang Whoosh saat kereta berhenti di Stasiun Padalarang, Jawa Barat. / reuters

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memastikan memiliki anggaran internal yang memadai untuk memenuhi kewajiban pembayaran utang proyek Kereta Cepat Whoosh Jakarta–Bandung. Kepastian ini disampaikan menyusul rencana pengalihan kepemilikan saham pengelola kereta cepat yang dijadwalkan rampung pada pertengahan September.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mencari investor luar untuk menyelesaikan beban utang proyek tersebut. Seluruh dana yang dibutuhkan akan diambil dari modal BUMN yang berada di bawah naungan Kemenkeu.

"Tidak, uangnya sudah ada," kata Purbaya saat memberikan keterangan di Istana Kepresidenan.

Di bawah skema restrukturisasi, Kemenkeu akan mengambil alih 60 persen saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dari badan pengelola investasi Danantara Indonesia. PSBI merupakan konsorsium BUMN yang terdiri dari PT KAI, PT Wijaya Karya, PT Jasa Marga, dan PTPN III.

Transaksi pengalihan saham dari Danantara ini dilakukan tanpa biaya atau nominal rupiah (zero payment). Dengan kata lain, Kemenkeu memperoleh penyertaan modal saham tersebut secara cuma-cuma, namun mengambil alih tanggung jawab penuh atas pembayaran utang proyek ke depan melalui Special Mission Vehicle (SMV) atau Badan Layanan Umum (BLU).

Sementara itu, sisa 40 persen saham di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) yang dipegang oleh konsorsium perusahaan asal China dipastikan tidak mengalami perubahan.

Purbaya mengaku optimistis terhadap kapasitas finansial entitas komersial di bawah Kemenkeu. Ia menyebutkan bahwa badan usaha SMV di bawah pengawasannya rata-rata mampu membukukan laba bersih berkisar Rp3 triliun hingga Rp4 triliun per tahun.

Khusus untuk entitas SMV yang ditunjuk mengelola holding kereta cepat, lembaga tersebut mencatatkan keuntungan bersih mencapai Rp800 miliar setiap tahunnya.

Restrukturisasi ini dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan utang proyek Kereta Cepat Whoosh yang selama ini menekan neraca keuangan pemimpin konsorsium BUMN, PT KAI. Rincian penghitungan beban utang secara menyeluruh akan difinalisasi setelah proses pengalihan saham selesai sepenuhnya.

TerkaitTRT Indonesia - Kemenkeu-Danantara bahas skema penyelesaian utang Whoosh jelang perundingan ke China
SUMBER:TRT Indonesia