Tim gabungan Search and Rescue (SAR) kembali melakukan pencarian terhadap kapal cepat yang kehilangan kontak saat membawa rombongan yang hendak meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
Area pencarian diperluas menjadi sekitar 271 mil laut ke arah barat daya Anak Krakatau pada Rabu (9/9), berdasarkan hasil pemetaan dan analisis data digital, Sebanyak enam kapal dikerahkan dalam lima unit pencarian.
Kepala Seksi Operasi Kantor SAR Banten, Riski Dwiyanto, mengatakan kondisi cuaca mendukung operasi. BMKG memperkirakan cuaca cerah hingga berawan, dengan angin dari selatan ke utara sekitar 14 knot dan gelombang setinggi 0,4 hingga 1 meter.
“Kondisi ini masih tergolong aman dan sangat efektif untuk melakukan pencarian di laut,” kata Dwiyanto.
Dua perahu Rigid Inflatable Boat (RIB) 01 dan 03 dari Lampung turut melakukan penyisiran di area sekitar 67 mil laut. Adapun RIB 02 Banten difokuskan pada pencarian jarak dekat di sekitar Pulau Rakata dan Pulau Panjang, untuk mengantisipasi kemungkinan korban maupun bagian kapal terbawa hingga ke daratan pulau.
Kronologi kapal hilang
Kapal tersebut berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin (7/9) sekitar pukul 14.00 untuk mendokumentasikan aktivitas Anak Krakatau. Komunikasi terakhir tercatat sekitar pukul 15.04 setelah salah satu penumpang sempat membagikan lokasinya kepada rekan jurnalis di Lampung.
Laporan Basarnas menyebut kapal membawa delapan orang, termasuk lima jurnalis, yakni M Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, dan Donal, jurnalis lepas. Tiga orang lainnya sebagai awak pendukung.
Pencarian sebelumnya sempat dihentikan pada Selasa akibat gelombang tinggi dan jarak pandang buruk. Operasi kini melibatkan Basarnas, TNI, Polri, nelayan, dan relawan, dengan dukungan kapal pencarian, perahu karet, serta drone termal.
Basarnas juga terus berkoordinasi dengan keluarga para korban melalui posko pencarian. Keluarga mendapat informasi terbaru mengenai perkembangan operasi, sementara tim SAR mengoptimalkan personel dan peralatan untuk menemukan rombongan tersebut.
Di tengah pencarian, aktivitas vulkanik Anak Krakatau masih berlangsung secara berkala dengan lontaran abu, lava, dan material pijar dari kawah. Aktivitas gunung sebelumnya turut menyebabkan penutupan sejumlah bandara yang berdampak pada ribuan penerbangan dan ratusan ribu penumpang.
Pencarian dilakukan ketika Anak Krakatau berada pada level peringatan kedua tertinggi sejak Juli. Pemerintah meminta masyarakat, wisatawan, dan nelayan menjaga jarak minimal 3 kilometer dari kawah aktif.















