ASIA
3 menit membaca
Cuaca buruk hambat pencarian 129 korban hilang kapal Virgo Transport 8 di Laut Jawa
Tim SAR gabungan berkejaran dengan cuaca buruk dan gelombang tinggi untuk mencari 129 penumpang yang masih hilang akibat tenggelamnya kapal Virgo Transport 8 di Laut Jawa.
Cuaca buruk hambat pencarian 129 korban hilang kapal Virgo Transport 8 di Laut Jawa
Operasi penyelamatan terus berlanjut setelah feri Virgo Transport 8 tenggelam di Laut Jawa. / reuters

Cuaca buruk dan gelombang tinggi hingga kini masih menyulitkan tim penyelamat dalam melakukan operasi pencarian 129 orang yang dilaporkan hilang, setelah kapal motor penumpang Virgo Transport 8 tenggelam di perairan Laut Jawa.

Kapal yang mengangkut 243 penumpang dan anak buah kapal (ABK) tersebut karam pada Minggu (13/9) dini hari dalam pelayaran dari Surabaya, Jawa Timur, menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kapal tenggelam di sekitar perairan Tanjung Selatan, dekat Pulau Masalembu.

Dari total penumpang di atas kapal, sebanyak 108 orang berhasil diselamatkan dan 6 orang dikonfirmasi meninggal dunia. Sementara itu, 129 orang lainnya masih dalam pencarian intensif oleh tim gabungan.

Pada pencarian hari ketiga, Selasa (15/9), Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) bersama TNI AL dan instansi terkait menerjunkan 1.100 personel, 17 kapal, serta 10 pesawat dan helikopter untuk menyisir perairan dari udara dan permukaan laut.

Kepala Kantor SAR Banjarmasin, I Putu Sudayana, menjelaskan bahwa kendala utama di lapangan adalah kondisi cuaca yang belum membaik dengan ketinggian gelombang mencapai 1,75 hingga 2,5 meter.

"Kondisi cuaca sejak pagi masih sama seperti kemarin, kurang bersahabat. Gelombang laut masih tinggi," ujar Putu, mengutip laporan Reuters, Selasa (15/9).

Rencana penyelamatan bawah air dan teknologi drone

Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, menyampaikan bahwa jika kondisi cuaca dan arus laut memungkinkan, tim penyelamat akan segera meluncurkan operasi penyelamatan bawah air untuk mencari kemungkinan korban yang terjebak di dalam bangkai kapal.

Operasi bawah air ini akan melibatkan penyelam khusus dari TNI AL dan Basarnas yang mampu menyelam hingga kedalaman lebih dari 100 meter. TNI AL juga mengerahkan KRI Canopus yang dilengkapi multibeam echo-sounder, underwater drone, serta remotely operated vehicle (ROV) guna mendeteksi posisi pasti bangkai kapal tanpa membahayakan keselamatan penyelam.

"Tentu kami masih berharap dapat menemukan para korban dalam kondisi selamat," kata Syafii.

Namun, ia menambahkan bahwa tantangan penyelamatan bawah air cukup tinggi mengingat posisi kapal yang karam belum stabil dan berisiko bergeser sewaktu-waktu akibat kendala arus deras serta visibilitas yang terbatas.

Penanganan dan pemulihan para korban selamat

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan memfokuskan penanganan pada pemulihan medis dan psikologis para korban selamat sebelum memulangkan mereka ke daerah asal.

Gubernur Kalimantan Selatan, Muhidin, menyatakan pihaknya siap memfasilitasi kepulangan para survivor. Pemerintah daerah juga membantu pengurusan surat kehilangan dari kepolisian bagi penumpang yang dokumen identifikasinya hilang saat insiden terjadi, agar mereka dapat membeli tiket pesawat untuk pulang.

"Sebagian besar korban selamat yang kami temui menyatakan ingin segera kembali ke rumah masing-masing," ujar Muhidin, mengutip laporan Anadolu Agency.

Saat ini, sebanyak 15 korban selamat masih menjalani perawatan intensif di beberapa rumah sakit di Banjarmasin, di antaranya di RSUD Ulin, RS Bhayangkara, dan RSUD Sultan Suriansyah. Sementara itu, 59 penumpang yang berada dalam kondisi sehat ditampung sementara di fasilitas akomodasi yang disediakan oleh pemerintah provinsi.

TerkaitTRT Indonesia - 22 korban selamat KM Virgo dievakuasi ke Banjarmasin, 129 orang masih dicari
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi