IKLIM
2 menit membaca
Pemerintah RI siapkan modifikasi cuaca saat karhutla hanguskan 107.000 hektare dan ancaman El Nino
Dengan meluasnya karhutla tahun ini, Pemerintah merencanakan operasi modifikasi cuaca bersama BMKG serta mengerahkan helikopter, pesawat, serta peralatan water bombing sesuai arahan Presiden ke lokasi-lokasi rawan titik panas.
Pemerintah RI siapkan modifikasi cuaca saat karhutla hanguskan 107.000 hektare dan ancaman El Nino
Petugas Damkar dan BNPB berusaha memadamkan karhutla di kawasan Gunung Bromo. /AFP

Pemerintah Indonesia meningkatkan upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah menghanguskan lebih dari 107.000 hektare pada tahun ini, dengan menyiapkan operasi modifikasi cuaca sebagai salah satu strategi utama. Langkah ini ditempuh di tengah kondisi kering yang diperparah oleh fenomena El Niño yang diperkirakan berlangsung hingga awal Oktober.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Djamari Chaniago mengatakan hujan buatan dinilai sebagai metode paling efektif untuk meredam kebakaran yang meluas di sejumlah provinsi rawan. Namun, ia menegaskan bahwa keberhasilan teknik tersebut bergantung pada ketersediaan awan hujan. 

“Untuk membuat hujan buatan, ada satu syarat yang harus dipenuhi: harus ada awan hujan. Selama awan tidak ada, hujan buatan tidak bisa dilakukan,” ujarnya sebagaimana dikutip oleh Antara.

Operasi modifikasi cuaca dilakukan dengan menyemai garam seperti natrium klorida ke dalam awan menggunakan pesawat khusus, guna mempercepat pembentukan butir air dan memicu hujan di area terdampak. Meski demikian, tim pemantau udara sejauh ini belum menemukan formasi awan yang memadai di wilayah sasaran. 

Djamari menyebut peluang kemunculan awan hujan diperkirakan terjadi dalam rentang tiga hingga empat hari menjelang 18 Agustus, dan pesawat akan segera dikerahkan begitu kondisi memungkinkan.

Upaya pemadaman difokuskan di enam provinsi dengan tingkat risiko tinggi, yakni Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Riau. Di saat yang sama, pemerintah juga menangani kebakaran di wilayah lain, termasuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menuturkan bahwa koordinasi lintas lembaga terus diperkuat untuk mengendalikan titik panas yang tersebar, khususnya di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. 

Selain merencanakan operasi modifikasi cuaca bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pemerintah juga mengerahkan helikopter, pesawat, serta peralatan water bombing sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

“Sejumlah hotspot teridentifikasi dan kami terus berupaya maksimal agar api tidak meluas,” kata Prasetyo.

Sementara itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen melindungi masyarakat dari dampak karhutla selama musim kemarau. Ia mengingatkan bahwa kebakaran tidak hanya merusak hutan, tetapi juga memicu gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), menghambat aktivitas ekonomi, hingga mengganggu operasional penerbangan.

Meski menghadapi tantangan kondisi iklim yang lebih ekstrem, pemerintah tetap optimistis situasi tahun ini dapat dikendalikan. “Kami berharap jumlah kebakaran tahun ini jauh lebih rendah dibanding 2023, dengan dampak minimal bagi masyarakat,” ujar Raja Juli.

SUMBER:TRT Indonesia & Agensi