ASIA
2 menit membaca
Gejolak Timur Tengah berlanjut, Purbaya: Stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga
Menkeu Purbaya menyebut faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah usai Israel dan AS menyerang Iran hingga perlambatan ekonomi dunia menjadi faktor perlambat utama.
Gejolak Timur Tengah berlanjut, Purbaya: Stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga
FOTO ARSIP: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. / Reuters
14 jam yang lalu

Pemerintah Indonesia menegaskan kondisi ekonomi nasional masih berada dalam jalur yang terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah usai Israel dan AS menyerang Iran hingga perlambatan ekonomi dunia menjadi faktor perlambat utama.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pada Senin (6/4/2026), sejak awal tahun Indonesia menghadapi rangkaian tekanan yang datang silih berganti. Mulai dari isu pembekuan penilaian ulang saham Indonesia oleh MSCI, penurunan peringkat utang oleh Moody’s Ratings dan Fitch Ratings, hingga konflik yang kembali memanas di Timur Tengah.

“Jadi tekanan yang kita alami bertubi-tubi di awal tahun ada MSCI, ada lagi lembaga pemeringkat. Terus ketika sudah agak tenang, ada perang di Timur Tengah,” ujar Purbaya dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, sebagaimana dikutip dari Metrotv News.

Menurutnya, situasi tersebut menjadi tantangan serius bagi pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. 

TerkaitTRT Indonesia - Pemerintah RI akan tekan lonjakan harga minyak dengan APBN, subsidi energi berpotensi naik

Ia juga mengingatkan, tanpa respons kebijakan yang tepat, Indonesia berisiko mengikuti jejak sejumlah negara di kawasan yang mulai mengalami perlambatan akibat lonjakan harga energi.

“Kalau kita tidak memanage itu dengan baik, kita mungkin nasibnya akan sama dengan negara sekeliling kita yang sudah mengalami perlambatan ekonomi yang signifikan, karena mereka terpaksa menaikkan BBM akibat suplai yang tidak ada di pasaran,” jelasnya.

Meski demikian, pemerintah melihat indikator domestik masih menunjukkan ketahanan. Aktivitas sektor riil tetap bergerak positif, dengan industri manufaktur mencatat ekspansi selama delapan bulan berturut-turut.

Pada Maret 2026, indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur memang turun tipis ke level 50,1 dibandingkan bulan sebelumnya. Namun angka tersebut masih berada di atas ambang batas 50 yang menandakan fase ekspansi.

Purbaya menambahkan bahwa penurunan tersebut lebih dipicu oleh sentimen kehati-hatian pelaku industri terhadap dampak lanjutan konflik di Timur Tengah, bukan karena pelemahan fundamental.

TerkaitTRT Indonesia - Rupiah menguat seiring deeskalasi konflik AS-Iran dorong optimisme pasar
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi