Tekanan internasional menguat menyusul tewasnya tiga prajurit penjaga perdamaian Indonesia yang tergabung dalam Misi Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), di tengah eskalasi konflik yang terus memburuk di kawasan tersebut.
Pemerintah Indonesia telah mengecam keras agresi yang menewaskan tiga prajuritnya, minggu lalu, Indonesia dalam rapat darurat di Dewan Keamanan PBB mendesak penyelidikan menyeluruh, transparan dan segara atas insiden tersebut.
Jenazah tiga prajurit telah tiba di Indonesia dan dimakamkan dengan hormat pada Sabtu (4/4/2026).
Indonesia mendesak PBB agar melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek keselamatan pasukan penjaga perdamaian, khususnya yang bertugas di Lebanon. Pemerintah menekankan pentingnya jaminan keamanan bagi personel yang menjalankan mandat internasional di wilayah konflik.
“Kita sekali lagi berupaya agar pasukan penjaga perdamaian kita diberi, agar pasukan perdamaian kita ini sehat, selamat dalam menjalankan tugas yang diembankan kepada mereka,” tegas Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono pada Sabtu (4/4).

Pentingnya perlindungan pekerja perdamaian
Dorongan ini sejalan dengan respons internasional yang muncul dari kelompok MIKTA—yang terdiri dari Türkiye, Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, dan Australia.
Dalam pernyataan bersama, kelima negara tersebut mengecam keras serangan yang menewaskan personel UNIFIL. Mereka menyebut serangan terhadap aparat PBB sebagai tindakan yang “tidak dapat diterima dan melanggar hukum internasional, khususnya hukum humaniter internasional.”
Para menteri luar negeri MIKTA juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serta pemerintah Indonesia, seraya menyatakan solidaritas penuh dan dukungan terhadap seruan Indonesia agar dilakukan investigasi yang segera, menyeluruh, dan transparan atas insiden tersebut.
Selain itu, mereka kembali menegaskan pentingnya perlindungan terhadap personel kemanusiaan, sejalan dengan komitmen dalam Deklarasi Perlindungan Pekerja Kemanusiaan.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya kekerasan di Lebanon selatan, di mana serangan udara Israel dan operasi darat terus berlangsung sejak bentrokan lintas batas dengan Hizbullah pada 2 dan 3 Maret.
Otoritas Lebanon melaporkan sedikitnya 1.422 orang tewas dan 3.294 lainnya terluka akibat serangan tersebut.
Ketegangan regional juga diperburuk oleh konflik yang lebih luas, termasuk serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari yang telah menewaskan lebih dari 1.340 orang. Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Di tengah eskalasi yang masih berlanjut, Menlu Sugiono menjelaskan sikap Indonesia mencerminkan dua hal yaitu duka mendalam atas gugurnya prajuritnya dan dorongan kuat untuk perubahan dalam sistem perlindungan pasukan perdamaian global.
Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa pengorbanan para prajurit tidak boleh sia-sia, seraya memastikan negara akan terus hadir untuk melindungi warganya yang bertugas di garis depan misi perdamaian dunia.










