DUNIA
2 menit membaca
Indonesia serukan deeskalasi di tengah eskalasi serangan AS–Iran di Selat Hormuz
Selain menyerukan penahanan diri, Indonesia juga mendorong kedua negara untuk kembali ke jalur diplomasi. Upaya deeskalasi dinilai harus ditempuh melalui dialog terbuka dan negosiasi yang tetap berlandaskan pada prinsip hukum internasional.
Indonesia serukan deeskalasi di tengah eskalasi serangan AS–Iran di Selat Hormuz
Indonesia kembali menegaskan pentingnya pengendalian diri di tengah meningkatnya ketegangan militer antara AS dan Iran. /Foto: Kemlu

Indonesia kembali menegaskan pentingnya pengendalian diri di tengah meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di kawasan strategis Selat Hormuz.

Pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri menilai situasi yang terus memanas berpotensi mengganggu stabilitas kawasan sekaligus keamanan jalur pelayaran internasional yang vital bagi perdagangan global.

“Indonesia menekankan agar semua pihak dapat terus menahan diri dan menghindari tindakan yang dapat memperburuk situasi,” ujar Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis.

Selain menyerukan penahanan diri, Indonesia juga mendorong kedua negara untuk kembali ke jalur diplomasi. Upaya deeskalasi dinilai harus ditempuh melalui dialog terbuka dan negosiasi yang tetap berlandaskan pada prinsip hukum internasional.

TerkaitTRT Indonesia - Iran: 14 orang tewas dalam serangan AS di 5 provinsi, operasi kereta api Teheran-Mashhad dihentikan

Menurut Kemlu, kelanjutan proses perdamaian antara Washington dan Teheran menjadi faktor krusial dalam menjaga keamanan kawasan Timur Tengah, termasuk memastikan kelancaran aktivitas maritim di Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur utama distribusi energi dunia.

Sementara itu, eskalasi konflik terus berlanjut dalam beberapa hari terakhir. Komando Pusat AS (CENTCOM) pada Selasa malam (7/7) mengonfirmasi telah melancarkan serangan terhadap sekitar 80 target militer di Iran. Washington menyebut langkah tersebut sebagai respons atas serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di perairan strategis tersebut.

Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Rabu (8/7) mengklaim telah menargetkan 85 fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah menggunakan rudal dan drone. Target yang disebut mencakup Pelabuhan Salman serta markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain, hingga Pangkalan Udara Ali Al-Salem di Kuwait.

Di tengah meningkatnya konfrontasi, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa nota kesepahaman (MoU) antara kedua negara untuk mengakhiri konflik tidak lagi berlaku. Pernyataan tersebut disampaikan di sela-sela KTT NATO di Ankara, Türkiye.

“Ini pertanyaan yang sangat menarik bagi saya. Saya rasa itu sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan dengan mereka lagi,” kata Trump kepada wartawan, sembari mengisyaratkan berakhirnya kesabaran Washington terhadap jalur diplomasi.

Trump juga menegaskan bahwa prioritas utama pemerintahannya kini adalah memastikan Iran menjalani proses denuklirisasi secara penuh, seiring meningkatnya ketegangan yang melibatkan kepentingan keamanan regional dan global.

TerkaitTRT Indonesia - Trump sebut gencatan dengan Iran 'berakhir' usai serangan baru, tetapi negosiasi dapat berlanjut
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi