PT Pertamina International Shipping (PIS) mengumumkan kapal tanker Very Large Crude Carrier (VLCC) Pertamina Pride berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman setelah sempat tertahan di kawasan Teluk Arab sejak Maret lalu.
Pelaksana Tugas (Pjs) Corporate Secretary PIS Vega Pita mengatakan kapal mulai berlayar dari Teluk Arab pada Selasa (7/7) pukul 13.00 waktu Dubai atau 16.00 WIB, sebelum berhasil melewati area kritis dan Selat Hormuz pada Rabu (8/7) pukul 00.15 WIB.
Menurut Vega, keberhasilan tersebut menyusul kapal tanker Gamsunoro yang lebih dulu melintasi Selat Hormuz pada 24 Juni. Dengan demikian, kedua kapal milik PIS kini telah keluar dari Teluk Arab dan kembali beroperasi seperti biasa.
"Artinya, kedua kapal milik PIS yang tertahan sejak Maret lalu kini bisa kembali melanjutkan perjalanan dan beroperasi seperti biasa," kata Vega dalam keterangan tertulis, Kamis (9/7).
Ia menilai keberhasilan pelayaran itu menunjukkan langkah mitigasi risiko dan pemantauan operasional yang dilakukan perusahaan berjalan efektif dalam menjaga keselamatan pelayaran di tengah situasi keamanan kawasan yang dinamis.
Vega juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Luar Negeri, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran, serta seluruh pihak yang telah mendukung proses pelayaran kedua kapal tersebut.
Langsung menuju Cilacap
PIS menjelaskan keputusan mengirim Pertamina Pride melintasi Selat Hormuz telah melalui penilaian risiko yang ketat. Berbagai aspek, mulai dari perlindungan asuransi, kesiapan teknis dan operasional, keamanan, hingga kesiapan awak kapal menjadi pertimbangan sebelum kapal diberangkatkan.
Selama pelayaran, kapal dipantau selama 24 jam melalui pusat krisis (crisis center) PIS. Awak kapal di laut juga terus berkoordinasi dengan tim di darat untuk memastikan pelayaran berlangsung aman.
Seluruh awak kapal dilaporkan dalam kondisi selamat. Setelah berhasil melewati Selat Hormuz, Pertamina Pride yang mengangkut 2 juta barel minyak mentah langsung melanjutkan pelayaran menuju Cilacap untuk mendukung pasokan energi nasional.
Kapal diperkirakan menempuh perjalanan sekitar 15 hari dan dijadwalkan tiba di Indonesia pada 23 Juli.
PIS menyatakan akan terus memantau kondisi keamanan di jalur pelayaran internasional dan berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan guna memastikan keselamatan awak kapal, keamanan muatan, serta kelancaran distribusi energi nasional.


















