Bagi Sylvester Boakye yang berusia 22 tahun, perjalanan pulang terasa seperti mimpi.
Saat pesawat lepas landas dari Afrika Selatan dan menuju Ghana, dia kesulitan mencerna apa yang sedang terjadi.
"Saat saya dalam penerbangan, rasanya seperti bermimpi," kenangnya. "Saya tak bisa membayangkan bahwa setelah semua itu, saya terbang dari situasi itu menuju tempat yang damai. Pulang itu sangat manis dan sangat menakjubkan."
Boakye termasuk di antara sejumlah migran Afrika yang baru-baru ini kembali ke Ghana di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap demonstrasi anti-asing dan ancaman terhadap migran di Afrika Selatan.
Kisahnya mencerminkan ketidakpastian, ketakutan, dan kerentanan yang dialami banyak migran yang terjebak dalam perseteruan seputar pekerjaan, imigrasi, dan identitas nasional.
Namun, menurut analis politik Stephen Phiri, ketegangan yang berkembang di Afrika Selatan tidak bisa dipahami hanya lewat lensa xenofobia. Mereka juga merupakan gejala dari krisis politik dan ekonomi yang lebih dalam yang memengaruhi tidak hanya Afrika Selatan tetapi banyak bagian Afrika.
Sebelum kembali, Boakye bekerja di Pretoria, di mana dia mengelola sebuah salon rambut. Seperti banyak migran, dia melakukan perjalanan mencari kesempatan, berharap membangun masa depan yang lebih baik melalui kerja keras.
Namun kehidupan sehari-hari semakin ditandai oleh rasa takut.
"Ketika kamu pergi keluar untuk membeli sesuatu atau bahan makanan atau sekadar menghirup udara segar, orang menyerangmu," katanya. "Kamu akan takut untuk keluar rumah."
Satu pertemuan tetap melekat dalam ingatannya.
Saat berjalan untuk membeli bahan pokok, dia melihat empat pria mendekat. Mereka bertanya dari mana asalnya.
"Saya bilang saya orang Ghana," kenangnya. "Responnya langsung. Responnya langsung."
"Mereka berkata, 'Kalian mengambil pekerjaan kami. Mengapa kalian tinggal di negara kami?'"
Menurut Boakye, konfrontasi itu berubah cepat. Para pria itu diduga mengancamnya dengan senjata api dan pisau sebelum merampas telepon, uang, dan barang-barangnya.
"Mereka memutuskan untuk mengambil semuanya," katanya. "Bahkan pakaian saya."
Serangan itu membuatnya terdampar dan trauma. "Saya tidak tahu harus berbuat apa. Rasanya seperti buta. Bayangkan kamu diserang dan tidak tahu harus ke mana."
Harapannya adalah menabung cukup uang untuk membeli tiket pulang. Namun, menurutnya, intervensi pemerintah pada akhirnya membuat kepulangannya menjadi mungkin.
Pekerjaan, keputusasaan, dan disinformasi
Di pusat perdebatan terletak pertanyaan yang sangat bergaung di Afrika Selatan: siapa yang berhak atas pekerjaan yang langka?
Phiri menolak klaim sederhana bahwa orang asing sekadar "mengambil pekerjaan" dari warga Afrika Selatan.
"Tidak ada yang mengambil pekerjaan orang lain," katanya.
Namun ia mengakui bahwa realitas ekonomi telah menciptakan ketegangan. Banyak warga Afrika Selatan, terutama mayoritas kulit hitam yang miskin, menghadapi kondisi ekonomi yang memburuk dan kesempatan kerja yang terbatas.
"Orang-orang menjadi putus asa," jelasnya.
Di beberapa sektor, migran menempati peran yang kini dicari warga Afrika Selatan. Namun Phiri berargumen bahwa kenyataannya jauh lebih kompleks daripada narasi populer.
Banyak migran telah bekerja secara legal di Afrika Selatan selama puluhan tahun, sementara yang lain telah menjadi penduduk tetap atau warga negara.
"Kamu tidak bisa datang dan mengusir seseorang setelah mereka bekerja selama 20 tahun," katanya.
Ia menunjuk universitas dan sektor profesional di mana warga Afrika keturunan asing telah membangun karier dan memperoleh status hukum selama bertahun-tahun. Namun banyak demonstran gagal membedakan antara migran baru, pekerja yang terdokumentasi, dan warga negara yang dinaturalisasi.
"Ada kurangnya pemahaman," kata Phiri. "Orang-orang tidak mengerti struktur-struktur ini."
Ia juga mencatat bahwa migran sering dipekerjakan karena mereka mau—atau terpaksa—menerima upah lebih rendah, sebuah dinamika yang mencerminkan ketidaksetaraan pasar tenaga kerja daripada semata kompetisi antar komunitas.
Phiri percaya bahwa para pemimpin politik memikul tanggung jawab besar atas eskalasi ketegangan.
Dalam kondisi kemiskinan dan ketidakamanan yang meluas, ia berpendapat, pesan politik yang memprovokasi bisa dengan mudah mengakar.
"Saat orang putus asa, dan seseorang mengatakan sesuatu yang sesuai dengan kondisi mereka, mereka akan mempercayainya."
Menurut Phiri, kemarahan yang terlihat di banyak komunitas tidak muncul secara terisolasi. Ia sering dibentuk oleh narasi politik yang mengalihkan frustrasi dari kegagalan pemerintah kepada kelompok rentan.
"Sedang terjadi kampanye beracun," katanya.
Beberapa partai politik, ia berargumen, secara aktif mencari dukungan dari kelompok anti-migran karena permusuhan terhadap orang asing bisa diterjemahkan menjadi suara.
"Jika kamu menciptakan kebencian di antara rakyat dan menjanjikan kehidupan yang lebih baik saat orang asing pergi, orang akan mendukungmu."
Ia berpendapat bahwa mobilisasi anti-asing telah menjadi fitur berulang dari lanskap politik Afrika Selatan selama periode pemilu.
Menurutnya, banyak peserta menyuarakan frustrasi yang tulus tentang pengangguran, kemiskinan, dan menurunnya peluang ekonomi. Periode pemilu memberikan kesempatan bagi keluhan-keluhan ini untuk diperkuat.
Phiri secara khusus menyoroti hubungan antara aktivis anti-imigrasi dan organisasi politik, berargumen bahwa politisi kadang diuntungkan dari retorika yang menyalahkan orang asing atas masalah sosial dan ekonomi yang lebih luas.
Lebih dari sekadar xenofobia
Meskipun kekerasan dan permusuhan yang dihadapi migran nyata, Phiri memperingatkan agar krisis ini tidak direduksi hanya menjadi masalah xenofobia.
"Kamu tidak bisa mengeliminasi sikap xenofobia atau Afrofobia begitu saja," katanya. "Tapi pada akhirnya, kamu menyadari bahwa kita sedang berjuang untuk remah-remah."
Argumennya adalah bahwa baik migran maupun warga Afrika Selatan yang miskin menjadi korban kegagalan struktural yang lebih luas.
"Warga Afrika Selatan merasakan dampak dari kegagalan negara pascakolonial," katanya.
Menurutnya, sistem ekonomi dan politik yang diwariskan setelah kemerdekaan gagal secara memadai menangani ketimpangan, pengangguran, dan eksklusi.
Akibatnya, orang Afrika biasa semakin bersaing untuk mendapatkan kesempatan yang terbatas.
"Kita berjuang sebagai korban," kata Phiri.
"Kamu dan saya bersikap sopan satu sama lain sekarang karena kita sudah makan. Tapi jika kita dikumpulkan di satu ruangan selama seminggu, kelaparan, dan lalu seseorang melemparkan sepotong roti, apa yang akan terjadi?"
"Masalahnya bukan bahwa kita saling membenci, tetapi seseorang telah menciptakan situasi di mana kita menjadi begitu putus asa sehingga akhirnya saling bertarung," jelasnya.
Bagi Boakye, tukang rambut itu, jawaban terletak pada persatuan yang lebih besar di seluruh benua.
"Saya benar-benar ingin membuka perbatasan kita," katanya. "Tidak ada perbatasan untuk orang Afrika. Tidak ada kebencian terhadap satu sama lain. Mari menjadi satu Afrika dan melakukan segala sesuatu bersama."
Itu adalah visi yang selaras dengan pandangan Pan-Afrika Phiri.
"Wacana yang kita miliki sejauh ini adalah wacana pemisahan daripada persatuan," katanya.
Daripada mengecam Afrika Selatan secara total, ia percaya orang Afrika harus berusaha memahami tantangan negara itu dan terlibat dalam dialog jujur tentang masalah bersama.
"Kita adalah anak-anak dari ibu yang sama," katanya, "yang kebetulan tidak saling menyukai—atau yang saling bersaing."
Ia juga mencatat bahwa banyak warga Afrika Selatan menentang tindakan anti-migran. Organisasi akar rumput dan aktivis telah bergerak melawan xenofobia dan mendukung migran.
"Publik umum Afrika Selatan tidak xenofobik," katanya. "Ada juga kelompok yang bangkit menentang tindakan-tindakan ini."
Untuk saat ini, Boakye aman di rumahnya di Ghana. Namun pertanyaan yang dibangkitkan pengalamannya tetap belum terjawab.
Akankah siklus pemilu mendatang memicu gelombang mobilisasi anti-asing lagi? Bisakah pemerintah menangani frustrasi ekonomi yang memicu kemarahan publik? Dan bisakah bangsa-bangsa Afrika menemukan cara membangun solidaritas daripada perpecahan?
Phiri tetap berhati-hati. Menyusul demonstrasi terbaru, ia memprediksi, "keadaannya akan sama seperti sebelumnya."
Meski begitu, ia percaya krisis ini menawarkan peluang untuk refleksi.
"Kita memiliki semua jawaban atas masalah kita," katanya. "Masalahnya adalah pelaksanaan dan kemauan politik."
Bagi dia, tantangan yang dihadapi Afrika bukan sekadar bagaimana mengelola migrasi. Melainkan bagaimana membangun masyarakat yang menawarkan martabat, kesempatan, dan inklusi bagi semua.
Sampai saat itu, migran seperti Boakye—dan warga yang berjuang di seluruh benua—akan terus menanggung biaya kemanusiaan dari kegagalan yang jauh di luar kendali mereka.
Artikel ini pertama kali diterbitkan di TRT Afrika.














