DUNIA
2 menit membaca
Menlu Sugiono: Palestina menjadi ujian bagi hati nurani dan sistem multilateral
Menlu Sugiono menegaskan dukungan Indonesia terhadap hak menentukan nasib sendiri bagi Palestina dan menyerukan penghormatan terhadap kedaulatan serta diakhirinya kolonialisme.
Menlu Sugiono: Palestina menjadi ujian bagi hati nurani dan sistem multilateral
Indonesia menolak segala tindakan yang melemahkan status kenegaraan Palestina. Foto: X/@Menlu_RI

Menteri Luar Negeri Sugiono menyebut isu Palestina sebagai “ujian bagi hati nurani” sekaligus bagi sistem multilateral dalam pidatonya pada Sidang ke-81 Majelis Umum PBB, Sabtu (26/9).

Sugiono menegaskan Indonesia akan terus mendukung rakyat Palestina hingga hak mereka untuk menentukan nasib sendiri terpenuhi dan negara Palestina yang merdeka serta berdaulat terwujud berdasarkan solusi dua negara.

“Kedaulatan harus dihormati dan kolonialisme harus diakhiri,” kata Sugiono dalam pidatonya.

Ia mengatakan pelanggaran hukum internasional di Gaza dan Tepi Barat mengingatkan pada kondisi dunia sebelum 1945, sebelum Piagam PBB, Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, dan Konvensi Jenewa.

“Indonesia memahami bagaimana rasanya berjuang melawan kolonialisme, berjuang di dunia ketika hukum internasional masih lemah dan kekuatan menjadi penentu,” ujarnya.

Sugiono mengatakan pengalaman Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan turut membentuk konsistensi dukungan Jakarta terhadap rakyat Palestina dan hak mereka untuk menentukan masa depan.

“Palestina bukan hanya persoalan bagi satu kawasan. Ini adalah ujian apakah sistem multilateral mampu menegakkan prinsip-prinsip yang menjadi dasar pembentukannya dan memberikan hasil ketika paling dibutuhkan,” katanya.

Dorong sistem multilateral yang lebih kuat

Sugiono menegaskan Indonesia tetap percaya pada PBB, tetapi lembaga tersebut harus berkembang mengikuti perubahan dunia.

“Jawaban atas multilateralisme yang tidak sempurna bukanlah mengurangi multilateralisme. Kita membutuhkan multilateralisme yang lebih kuat dan lebih baik,” katanya.

Ia juga mengumumkan pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB untuk periode 2029–2030 dengan komitmen “memperkuat persatuan dan memajukan perdamaian”.

Sugiono mengatakan Indonesia akan berupaya menjaga ruang dialog, membangun titik temu, dan mendorong kerja sama praktis dengan tetap berpegang pada Piagam PBB.

Ia menambahkan bahwa pendekatan tersebut menjadi dasar keterlibatan Indonesia dalam ASEAN, G20, D-8, BRICS, MIKTA, dan PBB.

Sugiono juga menyoroti kontribusi pasukan penjaga perdamaian Indonesia di bawah mandat PBB di Lebanon yang telah berlangsung selama hampir dua dekade.

“UNIFIL mungkin memasuki babak terakhirnya, tetapi komitmen Indonesia tidak berakhir bersama misi tersebut,” ujarnya.

Menurut Sugiono, ketahanan Indonesia dibangun dengan menempatkan masyarakat sebagai pusat, termasuk melalui penguatan ketahanan pangan dan energi, pendidikan, layanan kesehatan, serta perekonomian.

TerkaitTRT Indonesia - Menteri Luar Negeri Group of Eight bahas perdamaian dan Palestina di New York
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi