Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, kembali aktif setelah sempat terkendali, memaksa otoritas memperpanjang upaya pemadaman di tengah kondisi lahan gambut yang sulit ditangani.
Api yang melanda area sekitar empat hektare di Desa Sungai Putri, Kecamatan Matan Hilir Utara, kembali muncul pada Kamis pagi (9/7), hanya beberapa jam setelah dinyatakan terkendali pada Rabu sore. Kebangkitan titik api ini menyoroti tantangan penanganan kebakaran di wilayah gambut yang rentan menyimpan bara di bawah permukaan.
Kepala Pelaksana BPBD Ketapang, Yunifar Purwantoro, mengatakan tim gabungan masih dikerahkan penuh untuk memadamkan api sekaligus mencegah penyebarannya ke wilayah lain.
“Tim gabungan masih melakukan pemadaman dan upaya memutus perambatan api,” ujarnya dikutip oleh Detikcom.

Data BPBD menunjukkan hingga Kamis, baru sekitar 0,6 hektare lahan yang berhasil dipadamkan dari total area terdampak. Vegetasi yang terbakar didominasi semak belukar, pakis, dan akasia yang tumbuh di atas lahan gambut, memperumit proses pemadaman karena bara api dapat bertahan meski api di permukaan telah padam.
Untuk mempercepat penanganan, Satgas Karhutla setempat mengerahkan personel darat serta dukungan helikopter water bombing dari Pontianak. Selain penyiraman dari udara, tim di lapangan juga membangun sekat untuk menahan laju api.
Sumber air yang berada sekitar 20 meter dari lokasi kebakaran dimanfaatkan untuk mendukung operasi pemadaman. “Kami sudah mengerahkan personel darat sekaligus dukungan helikopter water bombing,” kata Yunifar menambahkan.
Meski kebakaran belum sepenuhnya terkendali, pihak berwenang memastikan api belum mengancam permukiman warga yang berjarak sekitar lima kilometer dari lokasi.
Operasi pemadaman melibatkan berbagai unsur, termasuk BPBD, Manggala Agni, TNI-Polri, serta masyarakat peduli api. Upaya ini terus dilakukan guna memastikan seluruh titik api benar-benar padam, terutama di tengah meningkatnya risiko karhutla selama musim kemarau.















