Indonesia menegaskan komitmennya untuk menciptakan hubungan ekonomi yang lebih berimbang dengan China melalui penguatan perdagangan, peningkatan kualitas investasi, serta pertukaran keahlian di sektor strategis.
Dalam Forum Wadah Pemikir dan Media China-Indonesia 2026 di Jakarta, Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI, Santo Darmosumarto, menyatakan bahwa kemitraan kedua negara perlu diarahkan pada bidang yang tidak hanya mendorong pertumbuhan, tetapi juga menghasilkan manfaat jangka panjang yang lebih merata.
Santo menyoroti ekonomi hijau dan hilirisasi mineral kritis sebagai prioritas utama kerja sama.
“Indonesia dan China dapat menambatkan masa depan bersih bersama melalui kendaraan listrik, ekosistem baterai, dan investasi energi berkelanjutan,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya rantai pasok yang bertanggung jawab dengan standar lingkungan dan sosial yang disepakati bersama.
Selain itu, sektor ekonomi digital, kecerdasan artifisial (AI), dan inovasi dinilai sebagai area potensial berikutnya.
Dengan posisi sebagai dua pasar digital besar dunia, kedua negara memiliki peluang luas untuk memperkuat kolaborasi dalam infrastruktur digital, pengembangan lokapasar, layanan pinjaman daring, hingga pemanfaatan AI secara bertanggung jawab.
Kerja sama juga didorong untuk diperluas ke bidang ketahanan pangan dan energi melalui riset bersama, investasi teknologi, serta peningkatan akses pasar bagi produk pertanian dan perikanan Indonesia.
Di sektor industri, Indonesia menekankan pentingnya transfer teknologi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta penguatan pendidikan vokasional guna meningkatkan kapasitas manufaktur nasional.
Santo juga menegaskan perlunya keseimbangan perdagangan dengan memperluas akses produk Indonesia ke pasar China, termasuk komoditas pertanian, perikanan, dan produk UMKM.
Ia menambahkan bahwa investasi dari China tetap disambut, selama sejalan dengan peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal dan penciptaan lapangan kerja berkualitas.
“Kami yakin hubungan Indonesia-China yang berwawasan ke depan dapat menjadi contoh kerja sama Selatan-Selatan dan berkontribusi pada tatanan global yang lebih inklusif dan adil,” kata Santo.


















