BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Rupiah tertekan dolar AS dan imbal hasil obligasi, jatuh hampir 1 persen sepekan
Rupiah menuju penurunan mingguan terbesar sejak akhir Mei akibat penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil US Treasury, sementara Bank Indonesia mempertahankan suku bunga 5,75 persen.
Rupiah tertekan dolar AS dan imbal hasil obligasi, jatuh hampir 1 persen sepekan
Uang rupiah dihitung di penukaran valuta asing di Jakarta, 4 Juni 2026. (AFP)

Nilai tukar rupiah menuju penurunan mingguan terbesar sejak akhir Mei 2026, tertekan oleh penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS).

Rupiah melemah hingga 0,3 persen menjadi Rp17.935 per dolar AS pada Jumat (25/9). Sepanjang pekan ini, rupiah telah turun hampir 1 persen.

Tekanan terhadap rupiah meningkat setelah imbal hasil US Treasury naik, sementara pasar memperkirakan suku bunga AS akan bertahan pada level tinggi dalam waktu lebih lama. Kenaikan harga minyak juga turut mendorong imbal hasil obligasi AS tenor 30 tahun ke level tertinggi sejak 2004.

Pada Rabu (23/9), Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75 persen. Keputusan itu diambil setelah BI menaikkan suku bunga secara kumulatif 100 basis poin pada Mei dan Juni untuk menopang rupiah yang terus melemah.

BI menyatakan akan lebih mengandalkan langkah-langkah berbasis pasar untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan dari kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi AS.

“Pasar menginginkan sinyal yang lebih kuat bahwa BI akan memprioritaskan stabilitas rupiah,” kata Lukman Leong, kepala analis Doo Financial Futures, seperti dikutip Reuters.

Menurut Leong, pemulihan rupiah secara berkelanjutan membutuhkan kebijakan fiskal yang lebih kredibel, intervensi bank sentral, serta peningkatan arus modal asing.

Rupiah tercatat sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di antara mata uang negara berkembang Asia. Mata uang Indonesia itu telah melemah sekitar 7 persen, antara lain di tengah meningkatnya tekanan fiskal akibat subsidi bahan bakar yang ditujukan untuk melindungi konsumen dari kenaikan harga minyak.

Kekhawatiran terhadap rencana belanja pemerintah yang ekspansif turut membebani sentimen pasar. Arus modal domestik juga menjadi perhatian setelah pasar saham Indonesia mengalami pelemahan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,6 persen pada Jumat dan telah merosot lebih dari 27 persen sejak awal tahun.

Di pasar valuta asing Asia, baht Thailand dan rupee India bergerak relatif stabil. Sementara itu, ringgit Malaysia, won Korea Selatan, dan dolar Taiwan menguat sekitar 0,3–0,7 persen setelah melemah pada perdagangan sebelumnya.

Dolar AS sendiri telah menguat lebih dari 1 persen sepanjang pekan ini dan mencapai level tertinggi dalam dua bulan. Mata uang tersebut juga menuju kenaikan mingguan berturut-turut untuk pertama kalinya sejak Juni.

Pelaku pasar turut mencermati pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington. Investor menunggu perkembangan terkait sejumlah isu sensitif, termasuk kecerdasan buatan, perdagangan, dan Taiwan.

TerkaitTRT Indonesia - BI pertahankan suku bunga 5,75 persen, perkuat insentif lindung nilai
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi