BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Indonesia bangun pusat bioetanol di Lampung, target produksi komersial 60 ribu kiloliter
Pengembangan ini melibatkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Pemerintah Provinsi Lampung, PT Pertamina New and Renewable Energy, Toyota Group, Universitas Lampung, serta sejumlah mitra lainnya.
Indonesia bangun pusat bioetanol di Lampung, target produksi komersial 60 ribu kiloliter
Fasilitas Bioethanol Development Center Tegineneng ditargetkan mulai berproduksi pada Desember 2026. / Lainnya

Indonesia mulai membangun pusat pengembangan bioetanol di Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Lampung, sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi dan mempercepat transisi menuju energi terbarukan.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu mengatakan pengembangan ini mengacu pada empat hal, yakni ketahanan energi, hilirisasi, transisi dan bauran energi, serta ketahanan ekonomi. Bioetanol dinilai berpotensi mengurangi ketergantungan pada bensin impor, mengingat konsumsi bensin nasional mencapai 36 juta kiloliter per tahun.

“Hari ini kita membahas ketahanan energi, hilirisasi, transisi energi atau bauran energi, serta ketahanan ekonomi. Dalam konteks bioetanol maupun biodiesel, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar,” ujar Todotua dalam keterangannya, Senin (14/9).

Sorgum menjadi salah satu bahan baku utama yang dikembangkan karena dinilai layak dan ekonomis berdasarkan riset industri otomotif Jepang. Pusat tersebut juga akan menguji teknologi bioetanol generasi pertama dan kedua, termasuk pemanfaatan singkong, jagung, serta limbah biomassa.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan pengembangan ini dapat menghubungkan sektor pertanian dengan industri energi terbarukan. Menurutnya, Lampung memiliki potensi besar karena sekitar 27 persen perekonomiannya berasal dari pertanian, termasuk produksi singkong sekitar 7,5 juta ton, padi 3,5 juta ton, jagung 1,7 juta ton, dan tebu sekitar 724 ribu ton.

Fasilitas Bioethanol Development Center Tegineneng ditargetkan mulai berproduksi pada Desember 2026 melalui proyek percontohan berkapasitas 60 kiloliter dengan demplot sorgum seluas 10 hektare. Kapasitas komersial sebesar 60.000 kiloliter ditargetkan didorong pada tahun berikutnya.

Pengembangan ini melibatkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Pemerintah Provinsi Lampung, PT Pertamina New and Renewable Energy, Toyota Group, Universitas Lampung, serta sejumlah mitra lainnya. Proyek tersebut juga diarahkan untuk melibatkan petani dan koperasi sebagai pemasok bahan baku.

TerkaitTRT Indonesia - Prabowo kebut pembangunan 50 pabrik bioetanol dan peremajaan tebu demi ketahanan energi
SUMBER:TRT Indonesia