Sebuah tragedi kemanusiaan kembali terjadi di Laut Andaman setelah kapal yang mengangkut ratusan pengungsi Rohingya dan warga Bangladesh dilaporkan tenggelam dalam perjalanan menuju Malaysia.
Insiden yang terjadi pada 9 April ini diduga menyebabkan sekitar 250 orang hilang, menambah panjang daftar perjalanan laut berbahaya yang kerap ditempuh para pengungsi.
Informasi awal terungkap setelah sebuah kapal berbendera Bangladesh menyelamatkan sembilan orang di perairan dekat Kepulauan Andaman. Para korban kemudian diserahkan kepada otoritas Bangladesh.
Polisi setempat menyebut jumlah pasti penumpang belum dapat dipastikan, namun mengakui jumlahnya sangat besar. Dari sembilan orang yang diselamatkan, enam diantaranya diduga terlibat dalam jaringan penyelundupan manusia dan telah ditahan.
Kesaksian korban selamat memberikan gambaran lebih rinci mengenai kejadian tersebut.
‘Kami tidak bisa bernapas’
Rafiqul Islam, seorang penyintas Rohingya, mengatakan kapal itu membawa sekitar 280 orang, termasuk awak kapal dan penyelundup. Sekitar 150 di antaranya adalah Rohingya, sementara sisanya warga Bangladesh.
Menurut Rafiqul, perjalanan dimulai pada 4 April dari wilayah Teknaf, Bangladesh selatan.
Para penumpang awalnya menggunakan perahu kecil sebelum dipindahkan ke kapal yang lebih besar di dekat perairan Myanmar. Dalam upaya menghindari patroli, mereka bahkan sempat dipaksa bersembunyi di semak-semak sebelum melanjutkan perjalanan laut.
Kondisi di atas kapal digambarkan sangat memprihatinkan.
Hampir 300 orang dijejalkan ke dalam ruang sempit, termasuk perempuan dan anak-anak. Para penyelundup disebut memaksa penumpang masuk ke kompartemen penyimpanan ikan dan jaring.
“Tidak ada oksigen yang cukup. Kami tidak bisa bernapas,” ujar Rafiqul.
Ia memperkirakan antara 25 hingga 30 orang meninggal akibat sesak napas bahkan sebelum kapal akhirnya terbalik dihantam gelombang besar dan cuaca buruk.
Saat kapal terbalik, ratusan orang terlempar ke laut. Rafiqul memperkirakan sekitar 240 orang masih berada di atas kapal saat kejadian, termasuk puluhan perempuan dan anak-anak. Hanya segelintir yang berhasil bertahan hidup.
Ia sendiri termasuk dalam kelompok kecil yang selamat, sebelum akhirnya diselamatkan kapal yang melintas.
Keputusasaan Rohingya
Badan PBB untuk pengungsi dan migrasi menyatakan bahwa insiden ini mencerminkan keputusasaan yang terus membayangi komunitas Rohingya. Bangladesh saat ini menampung sekitar 1,2 hingga 1,3 juta pengungsi Rohingya, sebagian besar melarikan diri dari kekerasan di Myanmar sejak 2017 dan kini tinggal di kamp-kamp padat di Cox’s Bazar.
Minimnya prospek masa depan serta terbatasnya bantuan kemanusiaan mendorong banyak pengungsi mengambil risiko besar dengan menempuh jalur laut menuju negara lain seperti Malaysia, Indonesia, dan Thailand.
Laporan terbaru dari International Rescue Committee (IRC) menunjukkan hanya 2 persen orang tua Rohingya yang merasa optimistis terhadap masa depan anak-anak mereka.
Dengan jatah bantuan pangan yang turun hingga sekitar 7 dolar AS per orang per bulan, banyak keluarga terpaksa mengambil langkah ekstrem. Sekitar 69 persen rumah tangga pengungsi melaporkan anak-anak putus sekolah, sementara separuh lainnya mengatakan anak-anak mereka harus bekerja.
Dalam pernyataan bersama, Badan Pengungsi PBB (UNHCR) dan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mendesak komunitas internasional untuk meningkatkan dukungan.
“Kami menyerukan solidaritas global dan pendanaan berkelanjutan untuk memastikan bantuan penyelamatan jiwa bagi pengungsi Rohingya dan komunitas tuan rumah di Bangladesh,” demikian pernyataan tersebut.
Hingga kini, belum ada repatriasi resmi ke Myanmar akibat penolakan dari junta militer negara tersebut.
Kondisi ini membuat banyak pengungsi terjebak tanpa kepastian, dan tragedi di Laut Andaman kembali menegaskan mahalnya harga yang harus dibayar dalam pencarian akan kehidupan yang lebih aman.













