Seorang petugas imigrasi Amerika Serikat menembak mati seorang pria yang diidentifikasi kelompok hak asasi sebagai warga Kolombia berusia 26 tahun pada Senin (13/7). Insiden ini menjadi kasus penembakan mematikan kedua oleh agen federal dalam kurun waktu kurang dari sepekan.
Penembakan terjadi di Biddeford, kota berpenduduk sekitar 22.000 jiwa di negara bagian Maine. Peristiwa tersebut diperkirakan akan memicu kritik baru terhadap kebijakan deportasi Presiden Donald Trump serta cara pelaksanaannya oleh Immigration and Customs Enforcement (ICE).
Pada awalnya, Senator Maine Angus King mengatakan kepada wartawan bahwa berdasarkan pembicaraannya dengan Menteri Keamanan Dalam Negeri Markwayne Mullin, korban merupakan target surat perintah penangkapan ICE terkait status keimigrasiannya.
Namun, belakangan pada hari yang sama, juru bicara King mengatakan senator tersebut kembali berbicara dengan Mullin dan mendapat penjelasan bahwa korban bukanlah orang yang menjadi target surat perintah tersebut.
"Orang yang tewas bukanlah orang yang sedang mereka cari," kata King kepada CNN.
King mendesak dilakukannya penyelidikan yang "menyeluruh, transparan, dan terbuka". Ia juga mengatakan para agen yang terlibat tampaknya tidak mengenakan kamera tubuh (body camera).
ICE menyatakan agen yang melepaskan tembakan akan diberhentikan sementara sesuai prosedur penanganan kasus penembakan yang melibatkan aparat. Sebelumnya, Federal Bureau of Investigation (FBI) juga menyatakan tengah menyelidiki insiden tersebut.
Pekan lalu, seorang warga Meksiko juga tewas ditembak agen ICE saat aparat berupaya menghentikan kendaraannya di Texas.
"Saya mencoba berhenti"
Daniel Boucher (71), warga yang berada di lokasi kejadian, mengatakan kepada AFP bahwa ia mendengar "banyak suara letusan" sebelum melihat para agen ICE menarik seorang pria dari sebuah mobil putih dengan kepala dan wajah berlumuran darah.
"Saat itu saya jelas mendengar korban berkata, 'Saya mencoba berhenti,' atau kata-kata yang serupa," ujarnya.
"Kemudian dia terjatuh ke tanah. Saya hanya bisa melihat bagian kaki dan perutnya. Pada satu titik saya melihat perutnya berhenti bergerak, dan saya tahu dia sudah meninggal."
Boucher juga mengatakan ketika ia menegur salah satu agen di lokasi, agen tersebut sempat mencoba menabraknya dengan kendaraan.
Juru bicara ICE mengatakan para petugas berusaha menghentikan sebuah kendaraan sekitar pukul 07.00 waktu setempat setelah melakukan pengawasan di alamat terakhir seseorang yang memiliki perintah deportasi.
"Kendaraan tersebut berusaha melarikan diri dari lokasi. Karena khawatir terhadap keselamatan publik, seorang petugas melepaskan tembakan. Pengemudi kendaraan terkena tembakan dan layanan darurat segera dihubungi. Korban kemudian meninggal akibat luka-lukanya," kata juru bicara tersebut.
Disebut sebagai tragedi
Koalisi Hak Imigran Maine (Maine Immigrants' Rights Coalition) dan Presente Maine, yang mengidentifikasi korban namun tidak menyebutkan namanya, mengatakan pria tersebut memiliki izin untuk bekerja secara legal di Amerika Serikat.
"Kami tidak akan membiarkan kematian ini hanya menjadi catatan kecil dalam statistik penegakan hukum pemerintahan ini," kata Direktur Eksekutif Presente Maine, Crystal Cron.
Gubernur Maine Janet Mills, mengacu pada laporan media AS yang belum terkonfirmasi bahwa korban bukan target operasi ICE, mengaku "terkejut dengan tragedi ini."
"Perkembangan ini membuat tragedi tersebut menjadi lebih mengganggu dan memicu kemarahan. Hal ini juga menunjukkan betapa ceroboh dan tidak teraturnya pelaksanaan operasi penegakan hukum imigrasi di Maine maupun di seluruh negeri," tulisnya di X.
Foto-foto dari lokasi menunjukkan garis polisi dipasang di sebuah kawasan permukiman, sementara tim forensik bekerja di dekat sebuah tenda merah. Sejumlah warga meletakkan lilin dan bunga di sekitar lokasi sebagai bentuk penghormatan kepada korban.
Sejumlah demonstran menggelar aksi dengan membawa poster bertuliskan "ICE Out!" dan berkumpul di kantor Senator Susan Collins, senator Maine lainnya dari Partai Republik yang juga merupakan sekutu politik Trump.
"Seseorang telah kehilangan nyawanya, dan keluarga korban serta masyarakat berhak mendapatkan penjelasan yang jelas mengenai apa yang sebenarnya terjadi," kata Wali Kota Biddeford Liam LaFountain dalam sebuah pernyataan.
Agen-agen ICE yang dikenal bersenjata lengkap telah menuai kritik di berbagai wilayah Amerika Serikat karena dinilai menggunakan taktik agresif terhadap para migran. Lembaga tersebut juga mendapat sorotan setelah dua warga negara AS tewas ditembak dalam operasi di Minneapolis pada tahun ini.





















