BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Indonesia dan Malaysia dorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral
Dukungan sistem pembayaran digital seperti QRIS dan DuitNow dapat membuka peluang penggunaan rupiah dan ringgit secara langsung, serta memperkuat konektivitas keuangan dan memberi manfaat nyata bagi pelaku usaha.
Indonesia dan Malaysia dorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral
LCT juga menjadi instrumen penting untuk memperkuat ketahanan sistem keuangan regional. / Dok. Arsip AP / AP
13 jam yang lalu

Indonesia dan Malaysia mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral guna menghadapi ketidakpastian global dan mengurangi ketergantungan pada dolar AS, melalui forum bertajuk “Leveraging the Benefits of Local Currency Transactions (LCT) Indonesia–Malaysia to Support Bilateral Economic Growth” yang digelar di Johor Bahru pada Rabu (1/4).

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Singapura, dengan menghadirkan pelaku usaha dan pemangku kepentingan dari berbagai sektor.

Dalam forum tersebut, perwakilan Bank Indonesia menekankan bahwa Local Currency Transaction (LCT) merupakan solusi praktis untuk meningkatkan efisiensi transaksi lintas negara. Dukungan sistem pembayaran digital seperti QRIS dan DuitNow dinilai membuka peluang penggunaan rupiah dan ringgit secara langsung, sekaligus memperkuat konektivitas keuangan dan memberi manfaat nyata bagi pelaku usaha, termasuk UMKM.

Konsul Jenderal RI Johor Bahru, Sigit S. Widiyanto, menyoroti eratnya hubungan kedua negara, khususnya dengan wilayah Johor, yang terhubung secara geografis, sosial, budaya, sejarah, dan ekonomi. Ia menyebut delapan dari sebelas terminal feri internasional yang menghubungkan Indonesia dan Malaysia berada di Johor, mencerminkan tingginya mobilitas masyarakat.

Penguatan transaksi lokal

Pada 2025, tercatat sekitar 2,6 juta wisatawan Malaysia berkunjung ke Indonesia, sementara 3,8 juta warga Indonesia melakukan perjalanan ke Malaysia untuk berbagai keperluan, termasuk pariwisata, layanan kesehatan, dan pendidikan. Kedua negara juga menjadi mitra dagang utama dengan hubungan yang semakin erat di tingkat kepemimpinan.

Untuk mempercepat pemanfaatan LCT, Sigit menjelaskan pendekatan “LAJU”. Konsep ini mencakup dorongan penggunaan mata uang lokal sebagai pilihan utama, percepatan adopsi oleh sektor perbankan dan bisnis, penciptaan pertumbuhan bersama, serta optimalisasi potensi kerja sama di berbagai sektor, mulai dari perdagangan hingga mobilitas tenaga profesional.

Kegiatan ini dihadiri sekitar 90 pelaku usaha dari berbagai sektor, mulai dari perbankan, remitansi, hingga layanan kesehatan, pendidikan, serta pelaku ekspor dan impor. Mereka berharap penggunaan LCT dapat semakin dioptimalkan untuk memperkuat kerja sama ekonomi Indonesia dan Malaysia di masa mendatang.

TerkaitTRT Indonesia - Transaksi QR lintas negara RI-Malaysia tertinggi di ASEAN


SUMBER:TRT Indonesia