Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan satelit observasi Bumi bernama Nusantara Earth Observation-1 (NEO-1) yang ditargetkan meluncur pada kuartal II 2027. Satelit ini dirancang menyediakan data berkelanjutan untuk memantau perubahan permukaan bumi, termasuk kondisi pertanian dan wilayah terdampak bencana.
Dalam situasi seperti banjir dan gempa, pemantauan melalui satelit dinilai penting untuk memetakan dampak serta menentukan prioritas penanganan di lapangan. Kemampuan memperoleh informasi cepat menjadi kunci saat bencana melanda, terutama ketika akses darat terputus atau jaringan komunikasi terganggu.
Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Robertus Heru Triharjanto, menjelaskan pengalaman penanganan banjir di Aceh dan Sumatera Utara menunjukkan peran penting citra satelit dalam operasi tanggap darurat.
Data tersebut membantu mengidentifikasi wilayah terdampak, mulai dari jalan terputus hingga kerusakan permukiman dan fasilitas publik.
Ke depan, fungsi tersebut akan diperkuat melalui NEO-1 yang dibekali kamera resolusi lima meter dengan cakupan pemotretan sekitar 70 kilometer. “NEO-1 akan meningkatkan kemampuan kita dalam mendukung operasi mitigasi bencana,” ujar Triharjanto.
Selain sebagai “mata” dari luar angkasa, NEO-1 juga membawa muatan Internet of Things (IoT) yang mampu menerima data dari berbagai sensor, termasuk di laut dan wilayah pegunungan. Teknologi ini dikembangkan bersama mitra BRIN, PT Netra Teknologi Nusantara.
Fitur tersebut memungkinkan pengiriman data dari lokasi terpencil sekaligus menjaga komunikasi saat infrastruktur darat terganggu. Triharjanto mencontohkan gempa Flores pada Agustus, ketika sejumlah BTS tidak berfungsi.
Dalam kondisi tersebut, perangkat IoT masih dapat terhubung langsung ke satelit. “Jika ada terminal IoT, komunikasi tetap bisa dilakukan langsung melalui satelit,” katanya.
Meski berpotensi memperkuat mitigasi bencana, fungsi utama NEO-1 tetap difokuskan pada pemantauan lahan pertanian. Satelit ini akan digunakan untuk menilai kondisi tanaman, potensi kerusakan, hingga kesiapan panen secara berkala.


















