Di sela-sela KTT NATO yang berlangsung di Ankara pada Rabu (8/7), Ibu Negara Türkiye Emine Erdogan menggelar diskusi meja bundar bersama para pendamping pemimpin NATO. Pertemuan tersebut mengusung tema "Anak, Teknologi, dan Keamanan: Melindungi Generasi Masa Depan".
Erdogan menyambut langsung satu per satu para pendamping pemimpin negara tersebut setibanya mereka di Istana Cankaya.
Dalam diskusi tersebut, Brigitte Macron, istri Presiden Prancis Emmanuel Macron, membagikan kebijakan negaranya yang kini tengah berupaya membatasi penggunaan gawai layar sentuh di lingkungan sekolah semaksimal mungkin.
Macron menjelaskan, apa yang dibaca anak-anak melalui layar gawai tidak memberikan dampak rangsangan otak yang sama seperti saat mereka membaca buku fisik. Ia menegaskan langkah pembatasan ini diambil setelah menyadari adanya perbedaan pola pengajaran, serta komitmen kuat untuk menjauhkan anak-anak usia dini dari paparan layar gawai yang berlebihan.
Lebih lanjut, Macron juga menyoroti maraknya video palsu (fake videos) yang kini kian canggih hingga dapat mengelabui siapa saja. Menurutnya, dunia harus mulai mengantisipasi tantangan masa depan sejak hari ini karena persoalan tersebut sudah ada di depan mata dan perkembangannya perlu segera dikendalikan.
Terkait pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), Macron menyebut bahwa para pelajar di Prancis kini diimbau untuk lebih berhati-hati dalam merencanakan masa depan karir mereka. Industri teknologi berkembang begitu cepat dan memicu kekhawatiran karena arah perkembangannya yang masih sulit diprediksi secara pasti.
Sementara itu, Diana Nausediene, istri Presiden Lithuania, menegaskan bahwa seluruh pihak sepakat mengenai pentingnya menciptakan ruang digital yang aman bagi anak-anak. Menurutnya, generasi muda wajib dilindungi dari ancaman perundungan siber (cyberbullying), disinformasi, hingga manipulasi hibrida.
Nausediene juga menekankan bahwa para pengambil kebijakan tidak bisa bergerak sendiri dan harus bersinergi dengan komunitas lokal. Ia menyatakan bahwa tantangan mendasar yang dihadapi saat ini membutuhkan komitmen dan kerja sama di tingkat internasional.
Ia menambahkan, aliansi NATO harus bersatu padu melindungi generasi muda dari berbagai manipulasi hibrida, mengingat kelompok usia muda merupakan target yang paling rentan terhadap penyebaran disinformasi.
Di sisi lain, istri Presiden Finlandia, Suzanne Innes-Stubb, melihat dari sudut pandang positif bahwa dunia digital sebenarnya menawarkan manfaat besar. Platform media sosial kini menjadi sarana penting bagi anak muda untuk saling terhubung, bersosialisasi, belajar, dan mengakses informasi.
Kendati demikian, Innes-Stubb tetap mengingatkan bahaya nyata di balik masifnya penyebaran disinformasi. Baginya, dunia digital kini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian anak-anak, dan jumlah pengguna dari kalangan usia tersebut terus bertambah pesat setiap menitnya.




















