Pemerintah Indonesia mulai merealisasikan langkah diversifikasi sumber energi dengan mendatangkan minyak mentah dari Nigeria, di tengah ketidakpastian pasokan global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengonfirmasi bahwa sebagian pasokan crude oil dari Nigeria telah tiba di dalam negeri. “Sudah ada yang terealisasi. (Dari Nigeria) sudah jalan. Sudah ada (yang tiba),” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman, di Jakarta.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada jalur distribusi yang melewati Selat Hormuz, yang hingga kini masih terdampak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Selat tersebut merupakan jalur vital yang menangani sekitar 20 persen pengiriman minyak global serta sebagian besar perdagangan minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk.
‘Sumber pasokan alternatif’
Sebagai respons, pemerintah mengalihkan fokus pada sumber pasokan alternatif yang dinilai lebih aman secara logistik.
Selain Nigeria, Indonesia juga mengandalkan Rusia dan Amerika Serikat sebagai pemasok utama dengan volume besar. Sementara itu, negara lain seperti Angola tetap menjadi opsi tambahan meski dalam skala lebih kecil.
Di tengah perubahan rantai pasok tersebut, pemerintah memastikan kondisi cadangan energi nasional masih terkendali. Laode menegaskan stok minyak mentah, bahan bakar minyak (BBM), hingga LPG berada dalam kondisi aman.
“Pak Menteri sering menyampaikan bahwa kami bahkan harus bekerja hingga larut malam untuk memastikan stok tetap terjaga. Itu yang kami lakukan agar masyarakat tetap terlayani,” kata Laode.
Sebelumnya, sekitar 20 persen impor minyak mentah Indonesia bergantung pada kawasan Timur Tengah. Namun sejak eskalasi konflik, pemerintah mempercepat penjajakan kerja sama dengan sejumlah negara, termasuk Brasil dan Angola.
Upaya ini juga diperkuat melalui kesepakatan dengan Rusia.
Dalam pertemuan antara Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev pada April lalu, Indonesia memperoleh komitmen pasokan sebesar 150 juta barel minyak mentah. Pengiriman direncanakan berlangsung secara bertahap hingga akhir 2026.













