Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengingatkan potensi musim kemarau berkepanjangan akibat fenomena El Nino saat menghadiri Sidang ke-21 United Nations Forum on Forests (UNFF21) di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat.
Dalam forum internasional tersebut, Raja Juli menyampaikan bahwa Indonesia meningkatkan kewaspadaan menghadapi kemungkinan El Nino berintensitas rendah hingga moderat yang diperkirakan terjadi mulai Juni 2026 dan berpotensi memperpanjang musim kemarau.
“Tahun ini kita harus jauh lebih hati-hati. Adanya potensi kemarau yang lebih panjang akibat El Nino menuntut kewaspadaan tinggi dari kita semua. Saya meminta seluruh jajaran dan mitra terkait untuk tidak lengah dan terus meningkatkan patroli serta pemantauan di wilayah-wilayah rawan,” ujar Raja Juli dalam keterangan resmi pemerintah.
Dalam pidatonya di forum PBB, Menhut juga memaparkan capaian Indonesia dalam pengendalian karhutla. Pemerintah mencatat penurunan luas kebakaran hutan hingga 86 persen dalam satu dekade terakhir.
Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, luas karhutla pada 2025 tercatat 359.619 hektar, jauh menurun dibanding sekitar 2,6 juta hektar pada 2015.
Menurut Raja Juli, capaian tersebut didorong penguatan sistem pencegahan dan peringatan dini yang terintegrasi, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran, serta keterlibatan masyarakat dalam perlindungan kawasan hutan.
Ia juga menyebut tren penurunan karhutla berlanjut pada periode 2024–2025 berkat optimalisasi pemantauan titik panas dan respons cepat tim gabungan di lapangan.
“Kolaborasi dan kesiapsiagaan menjadi faktor utama. Kita harus memastikan kebakaran hutan terus ditekan demi menjaga kelestarian hutan dan kualitas udara yang sehat bagi masyarakat,” kata Raja Juli.
















