BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Bank Dunia turunkan proyeksi ekonomi RI jadi 4,7 persen di tengah tekanan harga energi
Bank Dunia menilai Indonesia masih memiliki daya tahan ekonomi, termasuk dari sektor komoditas dan investasi pemerintah, yang dapat membantu menjaga permintaan domestik di tengah tekanan harga energi dan volatilitas pasar global.
Bank Dunia turunkan proyeksi ekonomi RI jadi 4,7 persen di tengah tekanan harga energi
Proyeksi ini juga lebih rendah dibandingkan capaian pertumbuhan Indonesia sebelumnya yang berada di kisaran 5,1 persen. / Reuters
3 jam yang lalu

Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 4,7 persen, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,8 persen, seiring meningkatnya tekanan global akibat konflik di Timur Tengah.

Dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026 yang dirilis pada 8 April, Bank Dunia menyebut perlambatan tersebut dipicu oleh lonjakan harga energi dan meningkatnya kecenderungan penghindaran risiko di pasar keuangan global.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan melambat menjadi 4,7 persen, karena hambatan dari kenaikan harga minyak dan sentimen penghindaran risiko,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.

Proyeksi ini juga lebih rendah dibandingkan capaian pertumbuhan Indonesia sebelumnya yang berada di kisaran 5,1 persen. Namun, Bank Dunia memperkirakan ekonomi Indonesia akan kembali menguat pada 2027 dengan pertumbuhan mencapai 5,2 persen, didukung investasi serta pelonggaran kebijakan moneter.

Tekanan eksternal juga dirasakan di tingkat regional. Kawasan Asia Timur dan Pasifik diproyeksikan hanya tumbuh 4,2 persen pada 2026, melambat dari 5,0 persen pada tahun sebelumnya. Gangguan pasokan energi akibat konflik geopolitik dinilai memperburuk kondisi tersebut di tengah meningkatnya hambatan perdagangan global.

TerkaitTRT Indonesia - OECD turunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akibat ketegangan AS-Iran

Tekanan harga energi

Pemerintah Indonesia menanggapi penurunan proyeksi tersebut dengan optimisme. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan revisi tersebut merupakan hal yang wajar di tengah ketidakpastian global.

“Dengan situasi perang saat ini, proyeksi di berbagai kawasan memang diturunkan,” ujar Airlangga dikutip oleh Antara.

Ia menambahkan bahwa angka pertumbuhan Indonesia masih berada di atas rata-rata global yang diperkirakan sekitar 3,4 persen, sehingga menunjukkan daya tahan ekonomi nasional.

Bank Dunia juga menilai Indonesia masih memiliki daya tahan ekonomi, termasuk dari sektor komoditas dan investasi pemerintah, yang dapat membantu menjaga permintaan domestik di tengah tekanan harga energi dan volatilitas pasar global.

Namun demikian, laporan tersebut mengingatkan bahwa jika konflik global berkepanjangan dan harga energi terus meningkat, dampaknya dapat menekan pertumbuhan lebih lanjut, termasuk menurunkan daya beli masyarakat di kawasan.

TerkaitTRT Indonesia - Pendapatan Indonesia pada Q1 2026 tumbuh dua digit, ditopang pajak dan aktivitas ekonomi


SUMBER:TRT Indonesia & Agensi