ASIA
2 menit membaca
KRI Bima Suci sandar di Nagasaki, perkuat diplomasi maritim Indonesia–Jepang
Sebelum tiba di Jepang, KRI Bima Suci telah mengunjungi sejumlah pelabuhan internasional, termasuk Shanghai di China, Busan di Korea Selatan, dan Vladivostok di Rusia.
KRI Bima Suci sandar di Nagasaki, perkuat diplomasi maritim Indonesia–Jepang
KRI Bima Suci sandar di Nagasaki, perkuat diplomasi maritim Indonesia–Jepang. /KBRI Tokyo

Kapal latih TNI Angkatan Laut, KRI Bima Suci, telah menyandar di Dermaga Dejima, Nagasaki, Jepang, dalam kunjungan yang menegaskan penguatan diplomasi maritim antara Jakarta dan Tokyo.

Duta Besar RI untuk Jepang, Nurmala Kartini Sjahrir, menyebut kehadiran kapal tersebut bukan sekadar kunjungan persahabatan, melainkan bagian dari upaya strategis mempererat hubungan bilateral. 

“Ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat diplomasi maritim dan simbol persahabatan yang kuat antara angkatan laut kedua negara,” ujarnya dikutip dari keterangan resmi.

Kunjungan yang berlangsung pada 18–21 Juni itu merupakan bagian dari misi Muhibah Diplomasi Duta Bangsa serta Latihan Praktik Kartika Jala Krida (KJK) 2026. 

Selain mempererat hubungan antar masyarakat, kehadiran kapal ini juga ditujukan untuk membangun kepercayaan dan kerja sama di sektor maritim, yang dinilai semakin penting di tengah dinamika geopolitik kawasan.

TerkaitTRT Indonesia - Jepang buka peluang transfer kapal perusak kelas Asagiri ke Indonesia

Komandan KRI Bima Suci, Letkol Laut (P) Sugeng Hariyanto, menekankan nilai edukatif dari pelayaran ini bagi para taruna. “Kunjungan ini memberi pengalaman internasional yang berharga bagi calon pemimpin masa depan TNI AL,” katanya.

Dari pihak Jepang, Rear Admiral Ogawa Kunio menyoroti kesamaan Indonesia dan Jepang sebagai negara kepulauan, yang membuat kerja sama maritim menjadi kebutuhan strategis. Ia menilai kunjungan tersebut mencerminkan kedekatan hubungan kedua negara yang perlu terus ditingkatkan.

Sebelum tiba di Jepang, KRI Bima Suci telah mengunjungi sejumlah pelabuhan internasional, termasuk Shanghai di China, Busan di Korea Selatan, dan Vladivostok di Rusia.

Kapal yang membawa 77 taruna AAL itu selanjutnya dijadwalkan melanjutkan pelayaran ke Manila, Filipina, dan tiba pada 2 Juli 2026 untuk menjalankan agenda diplomasi, pendidikan, dan budaya. 

SUMBER:TRT Indonesia